Tuan, Nyonya, Kenallah Kami!

Di kota dan desa,

Terpajang muka-muka calon pembesar

Yang kian hari semakin besar

Mata-matanya teduh mengawasi

Berlatar belakang merah putih

Sedang dibawah muka-muka ini,

Kami asyik bermain judi

Di warung-warung kopi,

Kedai-kedai bromocorah, para calo karcis, dan pengemis

Rumah-rumah bordir, proyek-proyek bangunan, dan halte bis

Serempak telah menjadi saksi

Pada mulut para pekerja sudah bosan, kelu memaki

Pada lidah jemu beribu-ribu kami

Sama persetankan perjanjian ini

Kerna kami sesungguhnya amatlah percaya janji,

Tapi tidak untuk realisasi…

Malam itu akupun disana

Sebelum tiba seorang tuan masuk melangkah

Ramah ulurkan kartu nama lantas berkata,

Mohon doa restunya…”

Berkata dalam hati seorang kawan,

Kami ‘kan restui anda tapi tidak untuk ke kotak suara!”

Masya Allah!

Dan aku berduka,

Tidaklah lagi kulihat ramai anak sekolah menunggu angkutan pulang

Tidak lagi ada kucing dan anjing yang akur bercinta di trotoar

Juga para pejalan kaki, pengayuh sepeda, tukang becak

Kerna mereka sudah digusur, dinistakan hak-haknya

Oleh pawai-pawai angkuh serigala jalanan…

Lantas kami,

Memandang lugu ke wajah-wajah bersih yang tak kami kenali

Berjas-berdasi-berkopiah-berjilbab-bersafari, semua rapi

Yang tampak berbeda dengan kami yang tak rapi

Dan sungguhlah tak ada yang kami curigai

Dari ratusan slogan yang melangit tinggi

Tapi kami hampir bosan menyangsi

Apa semua ini akan ada arti

Samasekali…

Kukatakan kepadamu,

Kepadamu saudara-saudaraku

Kepada mereka yang belum makan sedari pagi

Kepada mereka yang meringkuk di malam sunyi

Atau yang mencuri uang demi sepiring nasi

Jangan lagi mau menagih

Sebab ini bukanlah tempat bermimpi

Ini bukanlah surga, sirkus, dan opera basi

atau pula pertunjukan pesulap ilusi

Saudara,

Kita tidak sedang bermimpi

Kami rakyat kecil,

Bekerja dari pagi ke pagi

Dengan bayaran yang cukup untuk membunuhi mimpi

Sebelum tidur sambil memeluk duri

Maka saudaraku kawanku,

Pilihlah nanti dengan terpejam

Bekukan hati, tak ada yang haram

Serahkan telunjukmu pada Tuhan, biar Dia yang arahkan

Sebab kita tak mungkin diwakili,

Oleh tuan beserta nyonya yang tak mengenali kami

Juga yang hanya berpura-pura mengenali kami!

2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: