Tantangan Serius Muhammadiyah-NU

Seabad sudah Muhammadiyah mengabdi kepada bangsa Indonesia. Seabad pula Muhammadiyah membela kalangan marjinal yang terpinggirkan di seluruh Nusantara melalui berbagai kegiatan amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Sebagai organisasi massa Islam terbesar di dunia bersama Nadhlatul Ulama (NU), Muhammadiyah kini menghadapi banyak tantangan serius. Salah satunya adalah tantangan yang datang dari dua kutub ekstrem Islam, yakni fundamentalis Islam dan liberalis Islam. Baik Muhammadiyah dan NU selama puluhan tahun telah menegaskan diri untuk tidak berada di dua kutub ekstrem itu. Muhammadiyah dan NU adalah organisasi massa Islam yang moderat.

Gerakan fundamentalis Islam semakin tumbuh subur, terutama pasca keruntuhan Orde Baru. Gerakan terorisme, transnasional, dan Arabisme adalah salah satu indikasinya. Mereka memahami Islam secara tekstual dan dibungkus dengan jargon agama yang dirupa sedemikian keras dan intoleran. Mereka merongrong kedaulatan negara dengan serangkaian ancaman, baik secara fisik maupun ideologis, dengan tujuan akhir menggulingkan pemerintahan RI yang mereka cap sesat dan kafir.

Sedang kutub kebalikannya, kalangan liberalis Islam, sebenarnya tak kalah menakutkannya juga. Dengan dalih kebebasan, toleransi, dan hak asasi manusia, mereka mencoba memasukkan dan memaksakan segala sesuatu dari luar yang kita amat latah dan mabuk untuk menirukannya. Hal demikian jelas ahistoris dan cacat budaya. Sifat mereka amat permisif terhadap segala hal.

Menghadapi dua kutub tersebut, baik Muhammadiyah maupun NU harus mengambil jalan tengah. Dua ormas tersebut harus melakukan perlawanan ideologis dan menolak cara-cara kekerasan. Melawan gerakan fundamentalisme dan liberalisme, harus dimulai dari diri sendiri. Artinya, Muhammadiyah dan NU harus membersihkan diri sendiri terlebih dahulu dari susupan-susupan dua gerakan tersebut. Baru setelah itu, sayap perlawanan bisa dilebarkan menuju kader, pengikut hingga masyarakat luas.

Mengapa Muhammadiyah dan NU harus melakukan perlawanan? Sebab secara gamblang kedua gerakan tersebut terbukti terlalu banyak bicara, berteriak, dan berdebat, namun gagal dalam membela jutaan rakyat miskin secara langsung serta memecahkan masalah-masalahnya. Dua gerakan tersebut terbukti lebih ribut mempertentangan soal prinsip dan ideologi, namun melupakan praktik riil esensi dasar Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Muhammadiyah dan NU telah membuktikannya. Tanpa perlu mengubah wajah menjadi keras-radikal ataupun permisif-liberal, Muhammadiyah dan NU berada di garda paling depan dalam menegakkan Islam dan menjadi partner negara dalam pembangunan dalam segala bidang. Muhammadiyah dan NU lebih fokus kepada pemberdayaan ummat. Oleh karena itulah, semoga dalam Muktamar Muhammadiyah yang ke-46 ini, semangat perbaikan diri Muhammadiyah tidak semakin mengendur dan akhirnya bertekuk lutut di hadapan dua gerakan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: