Tamasya Sunyi

Menjauh dari kota

Aku kabur sebagai pelarian

Perjalanan dengan kereta

Bersatu dengan puluhan manusia pekerja

Bermata merah dan semua serupa

Kesusahan yang akrab dan jenaka

Mendaki tanjakan penuh batu dan pecahan bata

Samping sekolah, anak-anak desa berseragam putih merah

Menghadapi bendera yang sudah teramat tua

Bendera bangsaku, dan orang-orang pekerja

Sampai tikungan di lengan parit sawah

Berpapasan dengan seorang gadis desa

Duduk di tanah dan ranting ia genggam

Menyapaku kau tunjukkan arah jalan

Lalu ku berdoa, untukmu adik manis,

Semoga kau tak pernah mengenal kota dan seisinya

Menikahlah dengan pemuda desa dan hidup damailah

Menumpang pedati,

Menjadi tamasyaku yang sunyi

Mendadak terdengar sebuah irama

Saat rerumputan menggesek tanah

Perlahan bagai meliukkan suara biola

Berbaur dengan tabuhan sejuta tumbukan padi

Memantul teratur antara lembah tawa petani

Aku ingin mendengar alam berlagu

Yang terakhir kali kudengar lewat mulut ibu

Saat aku masih belum bisa membuka mataku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: