Sambut Ramadhan Dengan Jiwa Tenang

Ramadhan telah tiba. Bulan suci ini kembali menyapa dan mengunjungi kita semua. Di dalam Ramadhan, Allah membanjiri bumi dengan rahmat dan berkah-Nya, serta mengkerangkeng setan-iblis agar ‘cuti’ mengganggu manusia. Di bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan dan dibukakan pintu menggapai Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Oleh karenanya, ada baiknya kita kini mulai merenungkan makna Ramadhan bersama-sama.

Bulan puasa bukan hanya bulan dimana kita tidak boleh makan dan minum dalam setengah hari, berhubungan intim dengan pasangan, melihat, mendengar, membicarakan, dan memikirkan hal yang tidak-tidak, atau bulan dimana kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memperbanyak amal ibadah kita melalui serangkaian ritual ibadah, misalnya melaksanakan shalat tarawih, shalat witir, dan taddarusan al-Qur’an rutin, memperbanyak shodaqoh dan amal jariyah, mendengar tausyiah para ulama, dan sebagainya.

Lebih jauh, bulan suci Ramadhan adalah momentum yang sangat baik bagi semua Muslim untuk mempertanyakan kembali kepantasan-kepantasan dalam hidupnya; kepantasan untuk terus-menerus membikin keributan dan kerusakan di bumi-Nya tanpa malu-malu, kepantasan untuk menyelenggarakan kemungkaran diatas kemungkaran, kepantasan untuk melestarikan kemaksiatan diatas kemaksiatan, kepantasan untuk saling mencaci dan menikam, kepantasan untuk memperhinakan manusia beserta kemanusiaannya. Di bulan suci ini, segala kemungkaran yang lama kita selenggarakan dalam hidup melalui jalan-jalan yang licik dan tidak halal amat perlu untuk kita pertanyakankan kembali dalam suasana yang penuh kekhusyukan.

Sebab jika kita menengok sedikit saja ke belakang tentang apa saja yang terjadi dalam setahun terakhir ini, betapa kita akan tahu bahwa dunia sudah semakin ribut dan ricuh oleh persoalan-persoalan yang samasekali takkan menyenangkan ‘hati’ Tuhan. Kita akan menyadari betapa para manusia kini sudah mengambil alih kedudukan Tuhan sebagai satu-satunya penentu kebenaran tunggal. Terutama sekali di Indonesia, terlalu banyak yang terjadi bahkan hanya untuk kurun waktu setahun ini saja.

Berulangkali kita diguncang gempa, tanah longsor, banjir, semburan lumpur, kereta anjlok, kebakaran, dan ledakan tabung gas LPG. Keriuhan demi keriuhan itu masih ditambah dengan merebaknya kasus mafia pajak, video porno mirip artis, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, mahalnya sekolah di SBI-RSBI, dan sebagainya. Dan seperti lagu lama yang terus diulang-ulang, tak ada satupun dari masalah-masalah serius dan penting itu yang bisa menyadarkan Bangsa Indonesia untuk mulai belajar sesuatu dari semua itu, untuk dengan kerendahan hati mulai berupaya menyelenggarakan kehidupan yang adil dan makruf.

Tengoklah sejenak tingkah pola para elite politik bangsa yang besar ini. Mereka selalu menyibukkan diri dengan tiga hal; pemilihan pemimpin, pemilihan pemimpin, dan pemilihan pemimpin, dengan anasir-anasirnya berupa demonstrasi, money politics, bentrok antar massa pendukung calon, pengrusakan dan penganiayaan, penggempuran kantor KPU, dan segala kemungkaran lain yang menyertainya. Segala pengelolaan dan penyelenggaraan negara didasarkan hanya pada satu kempamrihan tunggal. Dan pamrih itu bernama ‘Pemilihan Umum 2014’. Semua agenda, kebijakan, dan terobosan dilakukan bukan lagi demi menggapai ridhallah, namun demi ridha kekuasaan. Mereka hanya tergerak ketika ada isu-isu penting yang menyangkut kekuasaan, nama baik, dan keuntungan pribadi dan kelompok, seperti kasus Bank Century, sekber koalisi, reshuffle, dan dana aspirasi. Mereka semua sibuk mengamankan posisi.

Para legislator turun hanya untuk nerocos bicara tentang kemakmuran pada para petani yang sebenarnya hanya ingin tahu mengapa pupuk kini langka. Mereka turun bukan untuk mendengarkan keluhan rakyat. Juga para aparat penegak hukum yang seharusnya menegakkan hukum justru tersandung bermacam kasus hukum seperti kasus Cicak vs Buaya, keterlibatan beberapa jaksa dalam kasus pajak, dan rekening gendut perwira polisi. Belum ditambah rencana mempersenjatai Satpol PP. Semua keributan itu jangan harap bisa membawa kita pada kedewasaan pikiran dan kearifan tindakan.

Tidakkah kini kita mulai menyadari betapa busuknya cara yang kita gunakan hanya demi menyelenggarakan kehidupan. Padahal sejatinya dunia dan seisinya hanyalah la’ibun wa lahwun, permainan dan senda gurau. Jangan sampai di bulan suci ini kita jauh lebih ribut dari bulan-bulan sebelumnya. Lebih-lebih, cara kita memaknai bulan Ramadhan seringkali kurang tepat. Kita lebih senang menarik bagian-bagian yang pragmatis dan strategis-bisnis dari bulan suci ini. Maka yang terjadi, bulan Ramadhan justru diramaikan oleh album religi, goyang Ramadhan, jajanan dan kue Ramadhan, sinetron Ramadhan, kuis Ramadhan, kartu ucapan Ramadhan, baju koko Ramadhan, pentas musik Ramadhan, lawakan Ramadhan, reality show Ramadhan, buka bersama, diskon Lebaran, dan sebagainya. Dalam Ramadhan, sikap main-main kita dalam hidup justru semakin meningkat.

Padahal, Ramadhan seharusnya identik dengan keheningan dan kekhusyukan. Bulan Ramadhan adalah saat bagi kita semua untuk bercermin dan mengoreksi diri. Ramadhan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang mau berserah diri pada Tuhan dan berendah hati serta mawas diri pada sesama manusia.

Ramadhan juga adalah saat yang paling sakral bagi umat Muslim untuk memulai lagi komunikasi; kepasrahan dan keintiman dengan Tuhan. Ramadhan mengajari kita membuka pintu-pintu batin untuk menangkap segala yang datang dari Tuhan. Ramadhan juga membukakan pintu solusi dan pencerahan bagi seluruh problematika kehidupan pribadi kita serta kehidupan berbangsa kita. Semua itu hanya bisa diraih oleh jiwa-jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang mau memandang ke dalam dirinya masing-masing, yang bersedia untuk mengheningkan suasana dan mengasah ‘telinga batin’. Oleh karena itulah, mari menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan menghindari segala macam keributan, agar nanti setelah Ramadhan beranjak pergi, kita sudah siap untuk menyelenggarakan kehidupan yang lebih baik lagi bagi semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: