Rencana Pemerintah Soal Kesehatan Rakyat

Letak kepuyengan utama rakyat miskin ada di dua sektor: pendidikan dan kesehatan. Mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan adalah cerita lama yang terus diulang-ulang. Terlebih lagi di bidang kesehatan, peradaban rakyat miskin yang kita bangun adalah peradaban pil dan kapsul. Artinya, ketika sakit apapun, rakyat miskin hanya mampu membeli pil dan kapsul di warung dan toko terdekat tanpa mampu berobat secara layak ke rumah sakit lantaran biaya rumah sakit yang mencekik leher. Itu semua benar-benar menyudutkan nurani kita.

Kepada rakyat miskin pemerintah kita sebenarnya sudah cukup serius. Dahulu ada kebijakan Jaring Pengaman Sosial, lalu berubah menjadi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JKPM), dan terakhir menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pemerintah juga sudah menyubsidi Rumah Sakit pemerintah pusat dan daerah demi peningkatan pelayanan pada pasien serta menutup kemungkinan defisitnya keuangan rumah sakit. Kita juga punya undang-undang untuk menjamin kesejahteraan sosial, termasuk didalamnya kesehatan masyarakat, yakni Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Tapi syukurlah ada satu harapan cerah, yakni rencana akan dileburnya empat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS) sesuai UU SJSN, yakni PT. Jamsostek, PT. Taspen, PT. Asabri, dan PT. Askes, menjadi satu lembaga tunggal berbentuk badan hukum publik wali amanah, bukan BUMN atau BUMN khusus. BPJS bertanggungjawab kepada Presiden melalui Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

Intinya badan ini kelak akan mengelola iuran kesehatan dari masyarakat. Lima jaminan yang akan dikelola adalah jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, pensiun, dan hari tua. Hal ini sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang jaminan sosial. Badan ini bersifat nirlaba. Jika UU ini goal, maka masyarakat umum, terlebih lagi masyarakat miskin tak perlu lagi memusingkan biaya rumah sakit jika ia sakit atau harus rawat inap. Juga takkan ada satupun rumah sakit yang akan menolak atau menyandera pasien karena tak mampu membayar biaya pengobatan. Jaminan kesehatan memang adalah perkara yang sangat urgent.

Namun, beberapa kalangan menilai kelemahan sistem jaminan sosial ini adalah tidak diwajibkannya para pekerja lepas, pekerja mandiri, termasuk didalamnya kalangan nelayan dan petani serta pengangguran untuk membayar iuran. Iuran hanya diberlakukan pada pegawai negeri, pegawai swasta, pekerja formal yang besar kecilnya iuran ditentukan berdasarkan besar kecilnya pendapatan. Maka pemerintah dan dinas kesehatan setempat harus rajin melakukan sosialisasi dan pendekatan persuasif untuk mengajak kalangan tersebut untuk bersedia menjadi peserta SJSN. Khusus untuk warga miskin, pemerintahlah yang akan membayarkan iurannya.

Pemerintah juga tak perlu khawatir kehabisan dana untuk membayari penduduk miskin, sebab sistem ini bersifat subsidi silang. Iuran penduduk juga disesuaikan dengan penghasilan dan akan memperoleh manfaat dan layanan kesehatan sesuai dengan yang dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman PT. Askes, hanya 25 persen jumlah peserta yang sakit per tahun dan yang dirawat inap hanya 0,6 persen.

Jika UU ini benar-benar dilaksanakan, dibutuhkan satu lembaga pengawas independen yang tugasnya adalah mengawasi aplikasi UU ini di lapangan, termasuk didalamnya soal manajemen keuangan. Terlebih, yang menyangkut aspek keadilan dan mutu layanan. Lembaga pengawas ini juga bisa berfungsi sebagai ‘suara konsumen’ yang menampung keluhan-keluhan pasien jika masih terjadi diskriminasi maupun pembiaran oleh pihak rumah sakit setelah UU diberlakukan. Oleh karena itu, payung hukumnyapun harus segera digodok bersama-sama. Itulah tugas pemerintah.

Kita semua berharap ada keseriusan dari pemerintah untuk merealisasikan apa-apa yang sudah diwacanakannya. Sebab bagaimanapun juga, hak untuk sehat adalah hak semua warga, tak terkecuali bagi warga miskin. Kesetaraan dalam kesehatan adalah komitmen pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: