Pasar Tradisional, Pasar Orang Kecil

Tarik ulur seputar relokasi pedagang dan PKL di Pasar Keputran, Surabaya, menghiasi media massa akhir-akhir ini. Para pedagang Pasar Keputran yang akan dipindah ke PIOS (Pasar Induk Osowilangun) menolak dan berjanji akan melakukan perlawanan bila terjadi pemaksaan. Hal-hal semacam ini sebetulnya sudah umum terjadi di kota-kota di Indonesia. Relokasi pasar tradisional sebenarnya tidak perlu terjadi andai Pemerintah Kota mengerti tentang pemetaan sosio-kultural pola perilaku masyarakat menengah-bawah.

Tanpa ada pemetaan sosiologis masyarakat, tiba-tiba akan diadakan relokasi. Tanpa adanya riset tentang pola kebudayaan masyarakat menengah-bawah, pemerintah hendak merubuhkan pasar krempyeng (sederhana) dan menggantinya dengan pasar modern. Kultur masyarakat bawah yang terbiasa berbelanja di pasar krempyeng dipaksakan untuk dimodernisasi dengan ditempatkan di pasar mewah, yang secara kultural, bukanlah ‘maqam’ (tempat) wong cilik untuk bertransaksi jual-beli. Konsep perencanaan yang salah itu menyebabkan perdagangan sepi. Penjual banyak tapi pembelinya sedikit. Pembeli enggan datang ke tempat ‘mewah’ itu lantaran takut harga barang yang dijual mahal, selain tentu saja aspek keleluasaan dan kebersahajaan yang tak pasar modern sekental pasar tradisional.

Pasar baru sebagai tempat tujuan relokasi seringkali menjanjikan tempat berdagang yang bersih, teratur, dan indah. Hal ini sebetulnya salah kaprah. Kita tentu tidak bisa mengharapkan sebuah pasar, yang notabene adalah tempat bercampuraduknya segala kegiatan jual-beli, menjadi tempat yang bersih dan suci sebagaimana masjid. Hal itu sudah menjadi kemutlakan bahwa pasar yang identik dengan tempat kotor, becek, dan sedikit kumuh, sebenarnya bukanlah masalah dan fokus utama masyarakat dalam beraktivitas di pasar.

Terlebih lagi, pasar tradisional menjadi tempat banyak orang untuk mencari nafkah dalam banyak jenis pekerjaan. Dalam pasar tradisional, kita menjumpai kuli panggul, tukang parkir, buruh pengupas bawang, tukang becak, dan lain sebagainya. Banyaknya jenis pekerjaan dalam suatu pasar tradisional membuktikan bahwa pasar tradisional adalah salah satu roda penggerak ekonomi rakyat yang cukup efektif.

Terakhir, satu aspek dari pasar tradisional adalah aspek silaturahmi antara pedagang dengan pedagang dan pedagang dengan pembeli. Dalam tawar-menawar ala pasar, pedagang dan pembeli berinteraksi langsung secara bersahaja. Begitu pula dalam persaingan antar pedagang yang jarang terjadi konflik, membuktikan bahwa pasar adalah sarana pelekat batin rakyat kecil yang mempunyai kesadaran diri untuk berdagang dan mengupayakan pencarian nafkah bersama secara damai dan tenang.

Oleh karena itu, pasar tradisional sebagai maqam wong cilik sudah semestinya dilestarikan keberadaannya. Pasar Keputran sebagai salah satu contohnya, sebenarnya bukanlah milik Pemkot Surabaya, namun milik masyarakat Surabaya dan Jawa Timur. Campur tangan Pemerintah Kota tetap diperlukan dalam hal melaksanakan ketertiban dan perlindungan bagi para pedagang dan pembeli di sekitar pasar tradisional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: