Mindset Gelap Kampus

Sadarkah kita jika para koruptor yang merugikan negara itu kebanyakan dulunya adalah seorang mahasiswa? Atau lihatlah para politisi licik yang penuh manipulasi dan permainan uang, juga adalah mantan mahasiswa. Jika kampus merupakan lembaga pendidikan, mengapa banyak koruptor dan politisi kotor lulusan kampus?

Tak semua kesalahan bisa dilemparkan pada institusi pendidikan ini, sebab kampus juga telah melahirkan banyak sekali ilmuwan, negarawan, agamawan, seniman dsb yang berjasa besar pada negara. Namun, fakta bahwa kebanyakan koruptor dan politisi klepto adalah individu-individu lulusan kampus tidak dapat dipungkiri.

Hal ini bisa dijelaskan jika kita mengamati dunia pendidikan kita yang kian hari kian kapitalis dan matrealis. Berbagai macam pungutan yang memberatkan terjadi di hampir semua tempat. Intinya, mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, mau tidak mau akan melahirkan satu pola pikir yang juga kapitalistik bagi para anak didiknya. Jika kapitalisasi terjadi dalam kampus, maka mahasiswa akan tercemari cara berpikir kapitalis juga, walaupun besar dan kecilnya pengaruh tersebut tergantung pada masing-masing mahasiswa.

Mahasiswa pasti pada umumnya bercita-cita jadi kaya. Bukan hanya soal tuntutan hidup atau jaminan masa depan, namun, sebenarnya kampus sendirilah yang secara tidak langsung ‘mengajarkan’ hal itu. Bagaimana tidak, biaya kuliah kini sangat mahal, padahal tak semua mahasiswa berasal dari keluarga mampu. Maka sangat wajar jika setiap mahasiswa bercita-cita menjadi kaya, sebab mereka kuliah dengan penuh perjuangan, terutama yang sifatnya material. Maka menjadi kaya adalah jawaban untuk ‘menuntut balas’ atas materi yang dikeluarkan selama kuliah.

Dari titik ini semua masih wajar. Namun, jika mindset ‘ingin jadi kaya’ berubah menjadi ‘harus segera kaya’, maka disinilah letak permasalahannya. Tak masalah jika cara yang dipakai adalah cara yang benar, halal, dan tidak merugikan orang lain. Namun jika sebaliknya, maka mindset gelap bernama mental kapitalis sudah merasuki alam pikiran mahasiswa. Akan ada banyak cara-cara licik yang akan segera dilakukan untuk mewujudkan impian.

Banyak dari koruptor dan pejabat kotor semasa jadi mahasiswa adalah agitator ulung, cerdas, kritis, bahkan anti-korupsi. Namun, ketika memasuki dunia kerja, mereka melakukan hal yang sama. Saya teringat peringatan Bung Tomo pada mahasiswa-mahasiswa angkatan ‘66. Ketika ditanya mau jadi apa, mereka menjawab ingin kaya secepatnya. Maka semua berbondong-bondong melamar ke perusahaan-perusahaan negara yang ‘basah’. Yang dikhawatirkan Bung Tomo, cara tercepat untuk menjadi kaya itu adalah dengan cara yang licik dan kotor. Tak ada satupun ahli matematika di dunia ini yang bisa menjelaskan bagaimana bisa seseorang yang bekerja di institusi negara bisa menjadi sangat kaya-raya dalam tempo singkat jika tidak korupsi.

Maka, hanya mahasiswa yang berpikiran sehatlah yang akan selamat dari permainan demikian. Melawan kapitalisasi di kampus adalah salah satu tugas mahasiswa. Namun, ketangguhan mental untuk menolak pelanggengan kehidupan yang tidak halal melalui cara-cara kotor juga harus dimiliki para lulusan kampus yang memasuki dunia kerja. Sebab bagaimanapun juga, lingkaran setan ini harus diputus sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: