Menangi Jaman Edan

Jaman sudah tidak normal, oleh karena itu banyak bermunculan paranormal. Cukup sampai disini saja, agama kita melarang kita memaki Jaman / Masa, sebab Masa itu ialah Dia Yang Maha Kuasa akan segala hal. Ya, kita tidak sedang memaki jaman, namun kita hanya akan bersuara tentang para doer atau pelaku jaman yang berwujud manusia. Dan bolehlah kita memisah term masa dengan huruf besar dan kecil, sebab dalam hidup, ada ketentuan-ketentuan dari Tuhan yang tak bisa diubah-ubah namun selain itu ada pula ketentuan-ketentuan Tuhan yang masih bisa diubah manusia. Yang terakhir inilah masa dengan huruf kecil.

Manusia berkembang dan dengan perkembangannya itulah yang memaknai suatu peradaban dalam suatu kurun masa tertentu. Kita mengenal jaman pra-sejarah. Kita mengenal jaman ketika para filsuf-filsuf Yunani berjaya, jaman ketika ilmu pengetahuan mulai digeliatkan hingga seterusnya masuklah yang disebut jaman skolastik, jaman kegelapan (Dark Age), revolusi industri, modern, postmodern, dan seterusnya. Disetiap jaman itu, manusialah pelakunya. Manusia pula yang memaknai spirit of times (zeitgeist) suatu jaman. Logikanya, jika manusialah yang membentuk suatu peradaban, itu semua pastilah (seharusnya dan semestinya) ditujukan demi kemaslahatan manusia. Namun mengapa banyak orang bilang jaman ini jaman edan?

Sebabnya sederhana. Manusia sebagai makhluk yang diberi kewenangan oleh Tuhan untuk mengurus dan mengelola bumi-Nya ini lebih mendahulukan sifat serakahnya. Bukan hanya serakah yang horizontal, pada sesama manusia. Namun juga serakah yang lebih luas; pada binatang, pada tumbuhan, dan alam raya. Maka jangan heran alam bergolak dan membunuh jutaan penduduk bumi. Kita maknai saja itu sebagai satu bentuk aspirasi alam yang harus kita dengarkan. Saya rasa, alam berhak melakukannya. Sebab ia sudah muak dan bosan dengan ulah kita. Itulah salah satu cara alam berkomunikasi dengan manusia culas demi memperingatkan kejahilan dan kejahiliaannya.

Dan jika yang merasa didholimi manusia itu ternyata adalah sesama manusia, maka cukuplah wajar jika kita frustasi lalu memaki, turun ke jalan, duduk di meja diskusi, atau setidak-tidaknya seperti tadi; cukup berujar ‘jaman sudah edan’. Adapun cara paling radikal adalah dengan jalan mengangkat senjata berperang. Berperang dapat menciptakan dua kehancuran sekaligus, yakni kehancuran kemanusiaan dan kehancuran alam. Lebih mengerikan; kehancuran peradaban. Sejarah sudah membuktikan bahwa untuk memenangi jaman, perang tidak selalu menjadi the best solution.

Betapa mengerikannya dunia yang kita tempati ini. Ada yang menuding ini semua (baca: keedanan ini) adalah buah kreasi konspirasi internasional yang mendudukkan beberapa orang dibalik meja untuk mendiskusikan rencana-rencana gelap demi mengeksekusi suatu tindakan megadahsyat yang mengancam ratusan juta nyawa. Bisa dalam bentuk perang (baik perang senjata maupun ideologi), pembersihan etnis, penciptaan virus-virus biologis pembunuh (seperti kata rumor), manipulasi ekonomi internasional, pemiskinan bangsa-bangsa, genosida, homisida….benarkah? Wallahu’alam.

Tak perlu jauh-jauh melalangbuana ke seantero dunia untuk menonton ‘keedanan’ jaman ini. Cukup duduk di depan TV atau buka koran nasional. Bagaimana negeri yang dipuji-puji orang karena berhasil menyelenggarakan pemerintahan yang demokratis, negeri yang dijauhkan dari perang-perang besar, yang dikaruniai alam kaya raya, yang memiliki rakyat yang santun, ramah, dan bersahabat, ternyata tak kalah mengerikannya. Negeri ini juga terkena imbas dari edannya masa yang sebenarnya diciptakan oleh manusia itu sendiri. Bahkan, negeri ini turut serta dalam rangka melanggengkan keedanan tersebut.

Berkali-kali kita ganti presiden dan kabinet. Saya sangat yakin, mereka semua beitikad baik ingin membangun negeri ini. Namun kenyataan selalu sama; yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Itu baru soal kesenjangan. Soal hukum? Tanya saja pada orang-orang macam Anggodo Widjojo, Susno Duadji, Artalyta Suryani, Jaksa Urip Tri Gunawan, kang Edi Tansil, dan daftarlah sendiri nama-nama koruptor dan tukang suap yang pernah beredar di negeri ini. Tengok pulalah nasib korban Lumpur Lapindo atau nasib saudara kita di Papua yang hanya lantaran ingin hidup layak dan setara dengan WNI lain lantas dicap sebagai ‘separatis’. Segudang soal di negeri ini cukup diringkas dalam 9 karakter; jaman edan. Ringan dan dangkal. Terkesan pesimistis dan tak ada harapan lagi. Namun lupakanlah soal-soal diatas. Apa yang harus kita lakukan sebagai hamba Tuhan yang berfikir adalah belajar dan belajar.

Menangi jaman edan. Sengaja saya beri judul coretan ini demikian. Dalam bahasa Jawa yang saya pahami, menangi artinya mengalami. Jadi kalau kita menangi jaman edan, artinya kita (sempat) mengalami atau merasakan jaman tersebut. Kita sempat dan sedang hidup dalam jaman tersebut. Sedangkan menangi yang kedua adalah versi yang dipendekkan dari kata Bahasa Indonesia: Memenangi atau memenangkan! Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam menghadapi jaman edan ini.

Tapi sebelum berperang, serdadu wajib mengenal dulu musuhnya, menyusun strategi, baru menggempur. Maka kita harus tahu dahulu apa itu jaman edan. Jaman edan menurut saya, versi saya, bukanlah suatu kemutlakan. Maka kawan semua berhak mendefinisikan apa itu jaman edan sesuai dengan akal sehat masing-masing. Sebab mungkin saja tingkatan edan menurut saya berbeda dengan sampean, tingkat sampean dengan orang lain. Namun, kita hanya berhak mendefinisikan, bukan untuk mengutuk-utuknya sampai pagi lalu tenggelam begitu saja. Tidak! Kita mengenali jaman edan agar supaya kita ‘menangi’ jaman edan itu.

Jaman edan adalah suatu jaman dimana semua nilai terjungkir balik. Nilai yang benar hanya tersimpan dalam akal sehat sementara nilai yang edan begitu langgeng dan mapan dan saat ini sedang menari-nari telanjang di depan mata kita, namun kita tak mampu melakukan apa-apa. Itulah jaman edan. Jaman dimana kualitas manusia menurun drastis dan berada di titik nadir. Kualitas manusia yang manusiawi, yang lebih mengutamakan akal sehat dan hati nurani ketimbang ego dan nafsu. Kualitas manusia yang mampu berdamai dengan alam dan Tuhan. Berganti dengan segala kualitas yang berbau self-centered, dan keakuan dimana-mana. Maka term-term berbau greedy macam ‘penguasaan’ ‘penumpukan’ ‘penimbunan’ ‘pemilikan’ dst itulah yang menandai jaman edan, versi saya.

Mempertajam hati nurani dan akal sehat, itu salah satu senjata perlawanan manusia yang hidup di jaman edan. Persetan dengan cara, seribu jalan menuju Roma, sejuta jalan menuju Malang. Dua kualitas itu, hati nurani dan akal sehat, secara eksklusif dikaruniakan Tuhan kepada manusia. Maka manusia akan mampu berlaku manusiawi (kata sifat, adjective) kepada sesama manusia, kepada alam. Kepada Tuhan, manusia akan memposisikan dirinya sebagai manusia kala berhadapan dengan-Nya, bukan malah merasa diri sebagai tuhan lalu menghilangkan paksa fakta tak terbantahkan bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia. Jika itu terjadi, maka segala macam tindakan kita akan kita benarkan, akan kita justifikasi dan legitimasi sendiri.

Lebih jauh, kesejalanan antara hati nurani dan akal sehat, niscaya akan mampu mengikis benih-benih keserakahan, kebencian, kepicikan, dan kesombongan. Pendapat saya simpel saja. Akal sehat akan mampu ‘berkomunikasi’ dan berinteraksi dengan manusia dan dengan alam secara lebih dinamis. Contoh sepele adalah manusia yang mengaku berakal pasti tak akan mau menebang hutan hanya demi beberapa duit. Sekalipun tega, senjata kedua berupa hati nurani akan berbicara bahwa hutanpun memiliki hak hidup. Bagaimana bisa kita mengoyak kehidupan sekaligus memancing kemarahan hutan demi mempertahankan hidup kita. Hutan cukuplah dermawan dengan memberi kita sewajarnya, kitalah yang serakah meminta lebih. Hal yang sama berlaku untuk perang, genosida, homisida, korupsi, dst. Intinya, manusia yang manusiawilah yang sanggup mengelola dan melestarikan kehidupan yang sudah dikaruniakan Tuhan ini secara adil dan wajar.

Spiritualitas masih menjadi kunci utama dan senjata paling ampuh dalam meredam blitzkrieg materialisme, hedonisme, konsumerisme dan konco-konconya. Terbukti bahwa gabungan beberapa hal itulah yang sanggup memperdangkal pemahaman manusia akan hidup dan cenderung tertarik pada hal-hal yang tampak-tampak saja, yang sifatnya duniawi, praktis, mudah, dan gemerlap. Spiritualitas, baik kepada Tuhan maupun kepada alam, mutlak dibutuhkan. Sebab, baik Tuhan maupun alam memiliki seperangkat hukum yang tak bisa diabaikan begitu saja oleh manusia. Hukum-hukum inilah yang bisa menyinergikan hubungan intra-manusia dan semua otoritas diluar manusia, yang bisa memperteduh perilaku manusia dalam berpikir dan bertindak, serta mencari solusi atas suatu masalah melalui cara-cara yang arif dan logis.

Dan seperti biasa, sulitlah kita mampu menghancurkan total kesemerawutan nilai pada jaman edan. Apa yang harus kita lakukan dalam rangka menangi, baik ketika mengalami maupun ketika bergerak untuk memenangkan, semua rangkaian proses itu haruslah dimulai dari diri kita sendiri sebagai otoritas paling kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: