Membina(sakan) Taman Kota

Tingkat pencemaran udara di kota-kota besar sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Polusi yang disebabkan oleh gas buangan kendaraan bermotor dan cerobong asap pabrik mengancam kesehatan warga kota setiap hari. Untuk mengatasinya, salah satu caranya adalah membangun taman kota atau ruang terbuka hijau sebanyak mungkin di setiap penjuru kota.

Langkah sebaliknya justru terjadi di Surabaya. Surabaya sebagai kota metropolitan, ibu kota Jawa Timur, serta pusat perindustrian dan perdagangan, tak perlu lagi diragukan tingkat polusinya. Ruang terbuka hijau mutlak diperlukan Surabaya. Namun baru-baru ini ramai diberitakan bahwa Taman Flora Surabaya akan segera dieksekusi. Eksekusi atas lahan seluas 4,5 hektar itu akan dilakukan oleh Pengadilan Negeri Surabaya yang akan menyerahkannya pada pihak swasta, yakni PT Surya Inti Permata. Gelombang protes dari wargapun menguat. Mereka tak ingin taman yang selama ini menjadi sahabat mereka dibongkar.

Hal semacam ini tidak hanya terjadi di Surabaya, tapi hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Taman kota, yang notabene dibangun dari uang rakyat, selalu rentan dieksekusi lantaran sifatnya yang non-profit dan kurang menguntungkan secara bisnis-ekonomis. Lain halnya jika taman kota itu dihancurkan untuk kemudian dibangun mall, ruko, atau arena olahraga komersial. Memang pada mulanya pihak swasta hanya mengajukan hak pengelolaan dengan membayar kompensasi kepada Pemkot. Namun, lambat laun aset kota tersebut akan dialihfungsikan menjadi tempat yang profit-oriented atau berorientasi keuntungan.

Yang dikorbankan tentu adalah warga kota. Taman kota sebenarnya bersifat multifungsi. Selain sebagai penghias kota, ia juga berfungsi sebagai paru-paru kota yang berguna untuk mengurangi tingkat polusi udara. Bagi penduduk kota, taman kota juga merupakan areal wisata rakyat yang gratis. Mereka bisa memanfaatkan ruang terbuka hijau tersebut sebagai tempat rekreasi, bersantai, bermain, berolahraga, dan bercengkrama dengan keluarga. Selain itu, taman kota juga bisa dimanfaatkan sebagai areal outbound dan kegiatan belajar luar ruang. Taman kota bahkan bisa dimanfaatkan sebagai cagar alam mini, sebagaimana Taman Flora yang memelihara rusa tutul.

Apalagi di tengah sumpeknya kehidupan di kota besar, amatlah wajar bila keberadaan taman kota seharusnya dibina, bukan malah dibinasakan. Taman kota seharusnya diperbanyak di tengah samudera bangunan beton kota. Sebab, jika taman kota dan ruang terbuka hijau lainnya dilenyapkan hanya demi keuntungan komersil nan pragmatis, maka jangan salahkan siapa-siapa jika kota tersebut akan semakin parah tingkat polusinya. Hal ini akan mengancam kesehatan warga kota secara langsung. Juga pertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan terjadinya banjir di tengah kota, suhu udara yang tinggi, disertai tingkat frustasi dan kejenuhan warga kota yang juga tinggi. Maka berhentilah membinasakan taman kota!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: