Khalifatullah al-Amerika Syarekat

Yang saya khawatirkan, kita ini sudah, sedang, dan akan berasyik-asyik ria dalam perbedaan. Kita mabuk demokrasi. Demokrasi, dalam dosis tertentu amat berguna sebagai manifestasi hakekat manusia yang selalu merindukan kebebasan dan jaminan akan kebebasan, tapi tidak jika overdosis.

Yang saya khawatirkan, kita berbeda-berbeda ria bukan karena Sunnah Allah atau Kemutlakan-Nya, tapi karena kebutuhan dan kewajiban. Kita butuh untuk selalu berbeda, kita perlu, wajib, dan harus untuk selalu tak sama. Sampai tingkat tertentu, perbedaan kita akan lebih menonjol dalam semua aktivitas kehidupan.

Yang saya khawatirkan, kita terlalu bersemangat tampil saling berbeda, hingga kita tak menyadari persamaan kita, yang sebetulnya adalah Sunnah Allah juga. Kita akan semakin gemar berormas-ormas, berparpol-parpol, bermahzab-mahzab, dan segala macam sekat-sekat pengabur persamaan dan perongrong persatuan. Dan akan semakin bahaya jika kita me-lipstick-i dan me-makeup-i itu semua dengan romantisme-romantisme kebangsaan dan keagamaan yang 90% berisi kepalsuan. Artinya, kita dengan seringai yang mengerikan akan mengatakan hal-hal semacam ini: Kita berbeda dalam persatuan. Kita berbeda namun tujuan kita sama. Kita berbeda dalam persaudaraan karena kenyataan historis-kultural. Kita tak sejalan bukan berarti kita bermusuhan. Kita berbhinneka tapi tunggal ika. Kita beda parpol, beda ormas, beda suku dan agama namun tetap demi satu tujuan Indonesia Jaya. Bahayanya, jika semua ungkapan itu hanyalah slogan yang akan segera kita manipulasi ketulusannya sesaat setelah diucapkan.

-oOo-

Bung Karno lama t’lah meneriakkan: Berdikari! Berdiri di Atas Kaki Sendiri. Dan segera setelah itu kita menumpuk utang internasional besar-besaran. Sempat pula kita ‘bersekutu’ dengan negara-negara kiri. Sempat pula lama kita tunduk-patuh pada kekuasaan Raja Diraja Soeharto. Ditangan beliau, alhamdulillah utang kita meningkat pesat. Artinya, kita benar-benar berdikari. Kita dengan kemampuan sendiri sanggup membuat pihak-pihak pengutang mempercayai kita untuk meminjamkan uang dengan bunga yang luar biasa. Lebih luar biasa sebab utang yang sifatnya personal-kelompokpun melalui mekanisme standar kredit yang abnormal sanggup ‘dinegarakan’. Dalam tiap kepemimpinan siapapun, utang kita akan meningkat. Alhasil, kita benar-benar berdiri diatas kaki sendiri dengan tenaga orang lain.

Ada banyak versi Konspirasi dan Gerakan Internasional yang tarafnya sudah sampai pada ‘gigakonspirasi’. Ada pemetaan 2020. Ada gerakan pemiskinan internasional. Ada Planning One World Government. Ada program-program super rahasia Yahudi Internasional. Semua itu perlu Anda pelajari sendiri. Intinya, semua gigakonspirasi dan global-planning yang beraneka nama itu akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu korbannya, pionnya, mainannya, kulinya…

-oOo-

Tapi tak perlu takut. Kita malah harus berbangga hati. Minimal, kita masih diperhitungkan untuk diper-kuli-kan oleh kekuatan internasional yang amat misterius itu. Tapi andai kita tahu, semua kekuatan-kekuatan dan gerakan-gerakan besar itu sesungguhnya amatlah takut dengan makhluk yang namanya Indonesia ini. Mengapa? Sebab setidaknya ada tiga hal dari Indonesia yang patut diwaspadai: 1. Kekayaan alamnya, 2. Kekuatan rakyatnya, dan 3. Energi dahsyat ummat Muslimnya.

Soal pertama dan kedua adalah perkara gampang. Kekuatan asing adalah pakar dalam mengeruk kekayaan kita sendiri dengan pembagian yang sangat tidak fair. Sedikit contoh, kerabat saya yang bekerja di PLTU Paiton bercerita bahwa PLTU itu ‘bos’nya adalah perusahaan Inggris. PLTU Paiton dikontrak selama 40 tahun. Jadi pihak Inggris memproduksi listrik melalui mekanisme bertenaga uap, dan listrik itu akan dijual lagi ke Indonesia. Itu kecerdikan pertama. Perjanjiannya, setelah 40 tahun ‘puas’ produksi dan jualan listrik, alat-alat produksi itu akan dihibahkan ke Indonesia, dan mohon bayangkan sendiri kondisi peralatan yang sudah bekerja selama 40 tahun itu bagaimana. Saya menduga, 40 tahun itu bukan kontrak asal kontrak yang tak memiliki pandangan futuristik. Artinya, Inggris telah memperhitungkan batu bara Indonesia (sebagai bahan utama produksi energi uap) ini paling aktif diproduksi selama 40 tahun ke depan (dihitung dari hari teken kontrak). Setelah ‘habis’ atau karena kontrol eksploitasi tambang bumi yang diberlakukan pemerintah beberapa tahun ke depan, Inggris akan pulang dengan amat-sangat kaya raya. Itu baru Paiton. Freeport? Jauh lebih gila lagi.

Artinya apa? Dengan amat sangat terpaksa kita ini mempersilahkan kekuatan asing manapun untuk secara bergantian mengeruki kekayaan alam kita dan dikapalkan ke negaranya masing-masing. Jangan dulu bilang kita kalah teknologi. Yang sederhana saja dulu, semisal daya tawar kita yang amat lemah sampai kita tak mampu mendudukkan seorang pribumipun di jajaran direktur Freeport. Makin parah adalah mental pemimpin kita yang amat mudah dilobi, diajak kolusi, demi beberapa rupiah. Tapi itu tak perlu disesali lagi. Percuma, kita sudah sama-sama menjalaninya selama bertahun-tahun. Dalam waktu dekat ini, kita harap akan ada solusi cerdas dari para teknokrat dan ilmuwan kita.

Yang kedua adalah kekuatan rakyat. Rakyat kita adalah bagian dari Bangsa yang amat besar, namun sangat mudah dibikin mabuk, dan yang memabukkan itu tentu bukan perkara narkoba saja. Orang Indonesia gampang disetir dari isu satu ke isu lainnya, satu kenyataan ke kenyataan lainnya, tanpa sedikitpun kesadaran bahwa apa yang ia sangka benar ternyata salah, dan sebaliknya. Rakyat Indonesia melahirkan generasi muda sebagai pemamah-biah sampah-sampah budaya-budaya asing yang sebetulnya tingkatannya amatlah jauh dibawah budaya asli kita, sekaligus diimpotenkan produktifitas dan kreatifitasnya. Kita akan diputar melalui takhayul kemajuan teknologi dan jaman demi mendidik kita menjadi pribadi yang pengecut yang kehilangan jati diri untuk mengidentifikasi diri sendiri. Kita mudah dibikin marah dan berteriak anti-komersialisasi, anti-privatisasi, anti-liberalisasi, anti ini itu, pro-rakyat, pro-poor, pro ini itu sambil dilumpuhkan tenaga kita untuk melawan ataupun memperjuangkannya, dan dihipnotis untuk semakin melanggengkannya. Maka hal-hal yang membuat Manusia Indonesia hidup dalam kesuksesan dan hingar bingar popularitas-hedonisme, dalam gemerlap duniawi dan segala kebaruannya, dalam kondisi ora eling lan waspodo, dalam comfort zone, dalam segala tuak klangenan, itulah yang dicari-cari dan diformulasi untuk dilemparkan matang-matang ke tengah kerumunan Manusia Indonesia melalui meriam-meriam pelontar yang sesungguhnya amat sangat kita kenal dan kita akrabi. Selebihnya, seperti yang sudah saya bahas diatas, kita akan makin mudah dikotak-kotakkan untuk selalu merasa berbeda. Itu adalah tugas yang enteng bagi kekuatan internasional.

Dan selama kekuatan yang ketiga ini, yang sebetulnya adalah bagian dari kekuatan kedua bisa digenggam, maka bereslah Indonesia. Kita akan segera diberi seragam kuli dengan label sebodoh-bodohnya. Yang ketiga itu adalah Ummat Muslim Indonesia. Dikatakan ia jumlahnya terbesar sedunia. Dikatakan ia mampu hidup dalam segala kebhinekaan dan pluralitas yang paling vary sekaligus dengan keragaman tingkat tinggi. Dikatakan ia mampu memadukan Islam, demokrasi, dan modernitas dengan amat elegan. Dikatakan ia mampu mengayomi perbedaan dalam dirinya sendiri, apalagi perbedaan dengan entitas lain.

Maka dicarilah cara agar Muslim Indonesia yang amat sangat religius dan berfilsafat tinggi ini selalu tampil berbeda dengan semangat saling mencurigai dan menjatuhkan. Dicarilah rumus agar Muslim Indonesia senantiasa berseteru satu sama lain, berkubu-kubu dengan segala bentuk, nama, dan identitas organisasi, partai, ormas, front, dan seterusnya. Dicarilah formula agar Muslim Indonesia memuja-muja berhala dengan segala macam bentuknya sekaligus dicarikan jalan agar mereka selalu salah pilih berhala. Dicarilah akal bagaimana agar Muslim Indonesia terpecah-pecah dalam dikotomi Kanan-Kiri, Moderat-Radikal, Liberal-Fundamental, Modernis-Skriptualis, dan difasilitasi agar mereka selalu bertengkar dan carok tanpa bisa mencari solusi sendiri apalagi menyatukan perbedaannya. Dan, dicarilah ide agar kita ribut sendiri dengan syair-syair ideologi dari Timur Tengah, puisi-puisi ideologi dari Barat, lagu-lagu ideologi dari Kiri, agar kita semakin tak bisa mengenali diri kita sendiri, dan lalu mencari justifikasi ilmiah, historis, dan epistemologis untuk bersama-sama saling menerkam, sama-sama merasa paling Islam dan paling benar, sama-sama saling mengkafirkan dan memurtadkan, sama-sama saling ngerasani, dan akhirnya sama-sama mati kehabisan tenaga dan daya. Mati dalam kebodohan dan ketololan ummat. Itulah namanya metode devide et impera gaya baru, yang akan diakhiri dengan tepuk tangan kemenangan penuh pelecehan dari kekuatan internasional.

Dan pada akhirnya, yang namanya Negara Kesatuan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Persatuan Indonesia ternyata hanya ilusi. Negara Demokrasi Indonesia ternyata cuma takhayul. Negara Islam Indonesia ternyata hanya mitos. Kekhalifaan Dunia, Daulah Islamiyah, Kekhalifaan Indonesia ternyata cuma omong kosong. Kalau kita masih pura-pura bersatu, dengan wasangka, curiga, jarak, kebencian, ditambahi pencilakan, insya Allah Indonesia akan segera tergabung dalam Khalifatullah al-Amerika Syarekat wal Yahudiyyah.

Maka Bedirilah Di Kaki Sendiri Bersama-Sama, hai Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: