Di Mata Tuan

Keteduhan pohon-pohon pinggir kota, buat tenang tunggu hujan

Tuan mau juga bercerita

Perceraian tuan dengan nasib dan sekutunya

Mimpi-mimpi yang sederhana saja

Berkaca. Mata tuan bicara

Menggetar bibir, tangan tak terima diam

Kepadaku seakan mainan sirkus hilang

Meremas jantung, pukul keras rangka…

Yang tuan bawa kawan pencambuk luka

Yang tuan lupa kejaran-kejaran meronta

Berkaca. Mata tuan bicara

Tambah memecah rangka

Hujan menjatuhkan jawaban depan kita yang duduk di tanah

Samarkan suara-suara yang terlampau gundah

Manghalau pergi kawanan-kawanan yang menyerah

Seakan membawa kita menjadi bayi merah

Satu saat…

-Jalanan Kota, 14 Februari 2009-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: