Belajar dari Kasus Pornografi

Merebaknya kasus video porno mirip artis ternyata tak membuat bangsa yang besar ini belajar. Semua kalangan seolah dibikin kaget oleh temuan itu, walaupun sebenarnya video-video mesum sejenis bukanlah barang baru bagi negeri ini. Yang membuat heran, instrumen reaksi kita tetap sama: berpikir linier dan mekanis dalam menghadapi setiap masalah.

Bangsa ini seolah goncang luar biasa selama beberapa hari hanya oleh dua video mesum. Padahal, ancaman pornografi dan pornoaksi sudah lama bergentayangan di sekeliling kita tanpa kita mampu berbuat apa-apa. Mekanisme tindakan kita masih saja kuno: mengadakan razia-razia ke warnet, handphone pelajar, dan para penjual DVD. Tak lupa kita menggelar demostrasi besar-besaran menentang pornografi, mengecami para ‘aktor’ dan ‘aktris’ video tersebut –walaupun belum terbukti secara hukum merekalah pelakunya, dan melakukan pencekalan di setiap tempat. Semua itu sebenarnya adalah solusi-solusi parsial.

Para pemimpin daerah seolah kebakaran jenggot. Atas nama moral dan akhlak, mereka melakukan pencekalan terhadap artis yang bersangkutan di daerahnya. Sebenarnya, hal tersebut lucu juga. Pencekalan samasekali tidak menyelesaikan masalah.

Saya rasa, jika para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat setempat benar-benar serius melawan pornografi dan pornoaksi, ya bubarkan saja semua lokalisasi di daerahnya yang sebetulnya adalah satu bentuk legalisasi pelacuran. Namun harus diingat, pembubaran lokalisasi harus dilakukan dengan elegan dan manusiawi. Tidak boleh ada satupun pekerja seks komersial yang dihinakan selama proses pembubaran. Artinya, segera setelah pembubaran pemerintah setempat memberikan pekerjaan baru yang layak bagi mereka. Kalau mau gentle mengakui, ada sebuah lokalisasi terbesar di Surabaya, yang siapapun walikotanya, tak kuasa membubarkannya lantaran besarnya kekuatan di baliknya. Di tempat-tempat lain kondisinya tak jauh berbeda. Lokalisasi ada sebab pemimpin setempat merestui.

Cara lain, sesekali adakanlah pengajian akbar dan kebaktian massal di sekolah-sekolah, mall-mall, bahkan kalau perlu di gedung anggota dewan. Pengajian tersebut harus dikemas secara lebih merakyat dan santai, sebagaimana pengajian budaya Emha Ainun Nadjib. Mengapa harus pengajian? Sebab, saat ini satu-satunya benteng terakhir yang mampu melawan pornografi adalah diri sendiri. Jika pribadi seseorang sudah jauh dari nilai-nilai agama, maka seketat apapun blokir terhadap situs porno dilakukan, sesering apapun razia dilakukan, pornografi dan pornoaksi akan tetap berkembang subur.

Meningkatnya jumlah remaja yang kehilangan keperawanan sebenarnya adalah buah dari rasa penasaran, begitu kata salah seorang seksolog. Maka agar tak penasaran, pendidikan seks harus tetap diajarkan oleh orangtua dan guru kepada anak dan remaja dalam suasana kekeluargaan. Sebab, Anda tak mungkin membiarkan anak-anak Anda belajar tentang seks kepada teman-teman sebayanya, apalagi sampai mempraktekkannya.

Itulah sedikit contoh perlawanan pada pornografi yang utuh, menyeluruh, berkonsep jangka panjang dan self-guarding. Sampai kapanpun, cara-cara linier-parsial-mekanis dalam melawan pornografi tidak akan menyelesaikan masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: