Anak Kota, Anak Bangsa

Jauh di pelosok Papua,

Kulihat seorang perempuan muda

Melukiskan angka tujuh di atas pasir

Kepada anak-anak suku yang terasing

Itulah kawan, pelajaran matematika

Lalu di Gunung Lawu,

Seorang bocah mengikat seekor tikus kelabu

Diberi tali, dia ajaknya berjalan kemana-mana

Itulah kawan, mainan sederhananya

Sedang di kota,

Matematika adalah neraca rugi laba

Yang hadir di kantor tata usaha sekolah

Sebagai pengkhianatan resmi anak bangsa

Dan di kota juga,

Lapangan tempat bermain telah lama sirna

Berganti bermacam permainan sampah yang mahal

Yang menuntun mereka pada pembodohan massal

Adalah anak-anak kota, korban nyata pembangunan

Jika demikian,

Akankah kita akan bosan menyalahkan pendidikan

Yang t’lah dimasuki akuntan dan tenaga pengajar

Akankah kita akan jemu mempersoalkan anak-anak kita

Yang mati terjerumus pada arus jaman yang kejam

Anak-anak kota, besarkanlah hati,

Percayalah generasi tua ‘kan mati

Generasi yang t’lah menciptakan sistem ini

Anak-anak kota, anak bangsa

Di tangan kitalah nanti ‘kan bergulir satu masa

Dimana segala ketidakadilan dan pengkhianatan ‘kan binasa

Kita jualah yang akan menguburkan bangkai-bangkainya

Bangkai ketidakadilan, bangkai pengkhianatan

Berderaplah ke depan segera,

Anak-anak kota, anak-anak bangsa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: