Anak-Anak Rakyat

Kelak ketika hari t’lah senja
Aku akan menghampirimu segera
Kawan, ceritakanlah semua padaku
Tentang dirimu dan orang-orang itu

Kujalinkan rerumputan diatas bukit
Lalu kau hamparkan semua sakit hatimu
Masihkah meranggas bunga-bunga jiwamu
Yang terus melawan dan memberontak pada hidup

Kita berdua sama-sama lelah
Kita bosan memaki dan menyalahkan
Tahulah hidup kita tidaklah selalu mulia
Namun kita masih saja harus berjalan

Kau bertanya padaku apa arti mati
Aku bertanya padamu apa arti sendiri
Dan mereka sang jelata menjawab,
Hidup bukan mati dan sendiri.

Darimanakah jawaban itu muncul?
Dari gedung-gedung mewah kotakah?
Dari sekolah atau kampuskah?
Engkaupun lalu menunjukkan padaku,

“Kau lihatlah atap-atap gubuk itu
Yang nampak bagai mulut-mulut yang bisu
Atap tempat si miskin mengadu,
Tempat para gelandangan menderu”

Dan dari atas bukit ini kita mengkhayal
Tentang sesuatu yang hilang dari dunia
Tentang kematian para penabur bunga
Yang dulu pernah menyemikan hati kita

Ceritakanlah semua itu, kawan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: