Mahasiswa Tak Perlu Menulis Skripsi

Saya selalu membayangkan; suatu saat mahasiswa seluruh Indonesia tidak perlu lagi menulis skripsi. Mengapa? Sebab mahasiswa diwajibkan menulis buku untuk menggantikan penulisan skripsi.

Masalah utama bukan terletak pada kegiatan penelitian dan pengumpulan data, namun lebih pada proses penulisannya. Skripsi memiliki banyak sekali kelemahan jika dibandingkan dengan buku. Menulis skripsi artinya kita akan menjerumuskan diri pada sistematika penulisan yang kaku, njelimet, dan membosankan. Skripsi terikat pada aturan tata bahasa yang ketat yang bisa membuat penulis maupun pembacanya eneg ketika menulis atau membaca skripsi. Skripsi memiliki judul yang panjang dan bertele-tele, sampul yang sama untuk setiap jurusan atau kampus, abstraksi (yang benar-benar abstrak), dan penjabaran kaku yang memiliki aturan cerewet perihal penggunaan diksi, tata letak, ukuran font, warna dan sebagainya. Kelemahan-kelemahan itulah yang membuat skripsi menjadi tidak komunikatif dan kalah populer dibandingkan buku. Padahal, skripsi dibuat juga agar segala macam hal inovatif didalamnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata

Transfer of knowledge menjadi tanda tanya besar bagi skripsi. Saya rasa skripsi hanya akan diproduksi untuk ditumpuk berjajar-jajar di perpustakaan untuk dijadikan rujukan oleh mahasiswa generasi selanjutnya yang juga berkepentingan untuk menulis skripsi. Begitulah seterusnya. Skripsi tiap tahun diproduksi namun (dikarenakan sifatnya tersebut) gagal menjawab persoalan aktual masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah karena pembaca, pelajar, pengunjung perpustakaan, apalagi masyarakat luas tentu merasa begitu enggan untuk mengambil skripsi lalu duduk membacanya dan mendiskusikannya panjang lebar. Hal itu tentu tidak berlaku pada buku yang jauh lebih enak untuk dibaca. Maka sungguh sayang, segala gagasan, ide, pemikiran, dan terobosan-terobosan otentik mahasiswa tidak akan sampai pada masyarakat sebagai pembacanya. Lagipula, selera masyarakat dimanapun saya yakin adalah membaca buku, bukan membaca skripsi. Kita mempunyai toko buku tetapi tidak ada toko skripsi (kecuali yang illegal), resensi-resensi selalu tentang buku, tak pernah ada resensi skripsi, dan bukulah yang melahirkan peradaban dunia selama berabad-abad, hal yang tidak pernah terjadi pada skripsi. Skripsi dimana-mana selalu bersifat ’hanya’ sebagai rujukan atau untuk kepentingan akademis lainnya.

Saya curiga, jangan-jangan gaya penulisan skripsi yang begitu saklek itu lantaran hanya demi melegitimasi sifat keilmiahan suatu tulisan serta pemapanan penyakit lama dunia pendidikan yakni formalitas sempit. Diksi-diksi kaku yang dimaksudkan untuk memberi kesan ilmiah pada gagasan mahasiswa itu justru malah membelenggu ide-ide mahasiswa. Dan akan lebih parah jika gagasan mahasiswa tersebut tidak sampai pada pembaca lantaran stereotype skripsi yang kaku. Dalam konteks yang agak berbeda, itulah mengapa dahulu penyair besar Jerman abad 20 Bertolt Brecht pernah berkata, “Dalam sajakku, rima selalu kuanggap sebagai kekurangajaran” sebab ia menyadari bahwa keindahan kata-kata yang terangkai menjadi rima hanya membelenggu ide-ide briliannya. Nah, dalam penulisan skripsi kita juga boleh berkata, “Dalam skripsiku, diksi selalu kuanggap sebagai kekurangajaran”.

Dengan mengganti penulisan skripsi menjadi penulisan buku, maka mahasiswa akan dibebaskan dari segala aturan tata bahasa tersebut dan bisa dengan bebas menyajikan ide-idenya atau menuliskan hasil penelitiannya sekreatif mungkin tanpa mengurangi substansi, keakuratan data dan fakta pada tulisan tersebut. Ia bisa merancang dan mendesain buku tersebut agar lebih komunikatif dan enak untuk dibaca.

Saya pernah membaca sebuah buku yang menurut saya sangat bagus sekali. Buku yang bisa dikategorikan ’berat’ itu bisa disajikan dengan apik dan ringan oleh penulisnya dengan tampilan yang menarik. Namun saya sungguh terkejut ketika tahu bahwa sebenarnya buku itu adalah hasil metamorfosis disertasi sang penulis. Tentu saja penulis telah melakukan pengeditan disana sini sebelum menerbitkan buku tersebut.

Jadi menurut saya, suatu saat mahasiswa itu tidak perlu lagi menulis skripsi, tapi menulis buku saja, dengan memberikan jaminan kebebasan berkreasi dalam mencipta bentuk, ekspresi, penuturan, ilustrasi, penjabaran, dan lainnya pada mahasiswa tanpa mengurangi sedikitpun tingkat keilmiahannya. Biarkan mahasiswa menuangkan ide-ide mereka dengan cara mereka sendiri, tanpa terbelenggu aturan penulisan yang ketat yang malah bisa mematikan kreatifitas mereka sendiri. Coba lihatlah artikel, opini, atau gagasan mahasiswa yang dimuat di koran atau majalah, lebih komunikatif kan, namun tetap kaya data dan analitis.

Maka, jika satu mahasiswa menulis satu buku, bayangkan, akan ada ratusan ribu buku-buku yang readable di setiap kampus. Syukur-syukur jika pihak kampus berkenan membangunkan sebuah percetakan kecil-kecilan untuk menerbitkan buku-buku tersebut ke masyarakat luas, secara komersial atau tidak (tergantung idealisme kampus masing-masing) agar hasil pemikiran mahasiswa itu bisa dinikmati, dikaji, dan dipelajari oleh masyarakat luas. Sebab, apalah gunanya segala pemikiran hebat dalam skripsi jika tidak pernah dikaji dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: