Ganyang Lintah Darat!

Salah satu oknum perongrong ekonomi rakyat kecil adalah kaum renternir alias bang kredit alias debt collector. Praktik lintah darat ini sudah berjalan sekian tahun tanpa ada tindakan apa-apa baik dari pemerintah maupun dari aparat penegak hukum.

Sasaran kaum renternir sangat jelas, yakni masyarakat kalangan bawah yang berprofesi sebagai pedagang kecil, buruh harian, ibu rumah tangga, dan sederet pekerjaan berupah rendah lainnya. Kaum renternir datang seolah sebagai pahlawan yang akan membantu rakyat kecil mengatasi kesulitan ekonominya. Akan tetapi, bantuan yang diberikan tentu saja tidak gratis. Tanpa persyaratan yang berbelit, masyarakat bawah bisa dengan mudah meminjam uang pada segala jenis rentenir, baik yang beroperasi secara perseorangan maupun yang berlabel ‘koperasi’. Namun, bunga pinjamannya sangat tidak masuk akal, mencapai 20-25%. Bunga sebesar itu untuk ukuran masyarakat bawah sangatlah besar. Namun mereka tak punya pilihan lain lagi. Maka, praktik-praktik pengisapan darah rakyat ini semakin berkembang biak di kampung-kampung dalam kota maupun desa.

. Kendati praktek ini sangat meresahkan dan berbahaya, bahkan menurut Islam tergolong riba’, mereka toh tetap ‘dirindu’ masyarakat bawah yang sudah kehabisan akal mencari kucuran dana segar dengan proses cepat. Terjadi semacam simbiosis mutualisme, walaupun sebenarnya simbiosis ini jelas lebih menguntungkan kaum renternir. Masyarakat bawah sebetulnya tak berdaya menampik kehadiran kaum renternir.

Beberapa waktu lalu di sebuah stasiun televisi diadakan diskusi mengenai fenomena lintah darat ini. Dan perwira polisi yang diundang diskusi waktu itu mengancam akan menangkap oknum-oknum debt collector yang merugikan rakyat. Namun, seruan tersebut sepertinya tidak direspon oleh semua aparat penegak hukum di daerah. Buktinya, bang kredit masih eksis dimana-mana. Maka, kini sudah saatnya bagi penegak hukum untuk mengganyang para renternir.

Ada yang patut dipertanyakan, kemana saja pemerintah ketika rakyatnya dihisapi para renternir? Pilihan masyarakat pada bang kredit sebetulnya bisa dimaknai sebagai ‘kritik sosial’ pada pemerintah yang tak mampu memberikan pinjaman dengan proses cepat dan bunga ringan pada rakyatnya. Bang kredit mampu melakukannya, walau memberlakukan bunga secara keterlaluan. Kita patut mengapresiasi kebijakan pemerintah yang bekerjasama dengan perbankan beberapa waktu lalu, yakni TabunganKu, yang sedikit memberi harapan ekonomi pada rakyat. Namun, alangkah lebih baiknya jika pemerintah mulai mempertimbangkan pemberian pinjaman langsung pada masyarakat bawah ‘menyaingi’ kaum debt collector, namun tentu saja dengan bunga yang lebih manusiawi dan proses yang tidak berbelit. Saya yakin, jika hal ini dilakukan, maka praktik-praktik renternir akan lenyap dengan sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: