Lubang Dalam Kurikulum Asing RSBI

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sebenarnya masih menyimpan banyak persoalan. Biaya pendidikan RSBI yang amat mahal ditengarai salah satunya akibat sekolah harus membeli lisensi kurikulum asing sendiri. Maka untuk mengatasi hal itu, pemerintah kini berinisiatif membeli lisensi kurikulum asing untuk dibagikan ke semua RSBI.

Dalam kebijakan seputar SBI-RSBI, saya merasa pemerintah seperti mengkritik dirinya sendiri dua kali. Pertama, membeli lisensi kurikulum asing sama artinya dengan mengumumkan pada masyarakat bahwa mutu dan kualitas kurikulum nasional sangatlah rendah, sehingga harus diganti dengan kurikulum internasional. Kedua, membeli lisensi kurikulum asing adalah jalan pintas yang mencerminkan betapa tidak becusnya para pemangku kepentingan dunia pendidikan nasional dalam membenahi kurikulum sendiri.

Membicarakan kurikulum pendidikan tentu juga harus membicarakan seperangkat nilai-nilai yang menyertainya. Dalam ranah budaya, nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum asing belum tentu sesuai dengan budaya Indonesia. Dan jika kita asal comot tanpa menyaring terlebih dahulu segala isi kurikulum asing, maka sama saja kita bersedia dijajah bangsa lain melalui pendidikan dan budaya. Inilah yang disebut dengan imperialisme gaya baru yang semakin meneguhkan harga diri bangsa kita sebagai bangsa inferior yang harus selalu menjadi pemamah biah segala yang datang dari Barat.

Nilai-nilai asing tersebut berpotensi menyingkirkan nilai-nilai lokal-nasional yang berlaku di Indonesia. Dalam bahasa yang lebih gamblang, sekolah internasional hanya akan melahirkan lulusan yang ber-KTP Indonesia, namun bertingkah laku layaknya orang Barat, -yang bahkan untuk berpikir inovatif ala orang Baratpun belum tentu mampu. Hal ini amat mungkin terjadi, mengingat fokus tujuan RSBI tidaklah jelas.

Implisitas pesan yang terkandung dalam kata ‘Internasional’ yang melegitimasi RSBI bisa memiliki empat makna, yakni; siswa mampu berpikir secara internasional-global-universal dalam bingkai kearifan lokal; siswa mampu mengasimilasi nilai-nilai internasional (asing) dengan nilai-nilai setempat; siswa (sekedar) mampu berbicara dalam bahasa internasional (Bahasa Inggris); atau siswa mampu menelan mentah-mentah nilai-nilai tersebut, membudayakannya, dan menyingkirkan nilai-nilai lokal-nasional Indonesia. Tak pernah dijelaskan yang mana yang menjadi final goal RSBI. Jika Implisitas makna ‘Internasional’ ditarik ke ranah yang lebih pragmatis, maka ‘Internasional’ hanyalah bermakna rumbai-rumbai fasilitas, kurikulum, bahasa pengantar, hingga model pembelajaran.

Di sisi lain, yang dikhawatirkan beberapa pihak addalah pembelian lisensi kurikulum asing ini hanyalah sebatas akal-akalan pemerintah demi mencari proyek basah. Padahal, dampaknya bisa membengkakkan biaya pendidikan. Sebab, mahalnya biaya sekolah di RSBI bukan hanya disebabkan oleh pengadaan fasilitas yang jor-joran, namun juga pembelian lisensi kurikulum dan pembiayaan ujian dari lembaga pendidikan asing. Ada dua solusi, pertama mengkaji ulang kebijakan RSBI dan kurikulum asing secara serius. Sedang solusi yang lebih radikal adalah membubarkan sama sekali semua sekolah berlabel RSBI dan memilih membenahi kurikulum nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: