SBI RSBI, Pilih yang Mana

Dunia pendidikan kita kian menyedihkan. Belum sanggup memberikan pendidikan yang adil dan merata kepada warganya. Pendidikan kita malah mengelompokkan sekolah-sekolah dalam empat kelompok yaitu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah Standar Nasional (SSN), dan Sekolah Reguler.

Pengelompokan itu tidak dibuat dengan perancangan yang matang, pemetaan konsep dasar pendidikan, pemetaan pola sosiokultural masyarakat, serta perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang jelas. Sederhana saja, pembagian itu hanya didasarkan pada besar-kecilnya uang.

Orangtua, sebagai pasar ekspansinya, selain akan disortir berdasarkan kemampuan finansialnya, mereka juga akan diundang memasuki dan melanggengkan ilusi massal ini dengan penawaran gengsi yang dilandasi mentalitas kemaruk, education as a lifestyle yang dipadu dengan ketidakpahaman istilah ‘taraf internasional’.

Maka harus dijelaskan apa makna kata ‘internasional’ dalam istilah SBI. SBI menawarkan pengajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Semua mata pelajaran akan diajarkan dalam bahasa Inggris kecuali tentu saja mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulumnya juga internasional, yang paling umum adalah mengadopsi Cambridge.

Dalam SBI, istilah ‘internasional’, selain dimaknai dengan segala fasilitas sekolah berstandar internasional, juga diperhubungkan dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah global lingua franca, bahasa internasional nomor satu mendahului bahasa Jerman, Prancis, Mandarin, dan Arab. Bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu manusia.

Kata ‘internasional’ yang dicaplok dalam istilah SBI itu maknanya cukup ambigu. Ia bisa berarti ‘standar’, baik fasilitas, uang masuk, uang SPP, tenaga pengajar, bahasa pengantar, cara berpikir, atau mungkin semuanya. Harus ada pemisahan yang jelas dan tegas antara ‘standar-standar’ itu.

Bisa jadi ‘internasional’ hanya dimaknai sebagai simbolisme, yang tidak memiliki substansi apa-apa selain label kosong belaka. Akan jadi bencana jika hal yang lebih substansial justru ditenggelamkan oleh simbolitas-simbolitas itu. Misalnya bahasa Inggris.

Sebagai bahasa internasional, diharapkan siswa-siswi menguasainya agar bisa berbahasa Inggris dalam pergaulan internasional, menyerap iptek dari dunia luar, mempromosikan negeri sendiri, dan lainnya. Akan tetapi sedikit lebih substansial: berbahasa Inggris tentu bukan hanya sekadar berbahasa, making conversation, bercakap atau berbicara. Sebetulnya, yang harus ditekankan adalah berpikir globalnya, bukan bahasa Inggrisnya.

Maka harus dibedakan antara berbicara dengan berpikir. Jika ingin sekadar bisa berbahasa Inggris, tak perlu bayar jutaan rupiah di SBI.

Indonesia sangat butuh orang yang mampu berpikir global-universal, namun bertindak dalam kearifan lokal. Berpikir besar, tetapi tak lupa asal-muasalnya. Itu sebetulnya sebenarnya esensi SBI yang diwakilkan pada kata ‘internasional’. Mungkin SBI bermaksud baik ingin agar muridnya berpikir global-universal. Akan tetapi gurunya dulu yang harus diajari cara berpikir global-universal sambil belajar bahasa Inggris.

Kebijakan seputar ambiguitas pemahaman SBI dan RSBI perlu dikaji ulang secara serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: