Pesan Halus Festival Malang Kembali

Akhirnya, usai sudah penyelenggaraan Festival Malang Kembali (Malkem) atau Malang Tempo Doeloe di kawasan Jl. Ijen tanggal 20-23 Mei 2010. Hingar bingar kemeriahan acara dan romantika-romantika klasik mungkin masih terngiang di hati pengunjung. Diperkirakan acara ini telah berhasil mengundang 1,2 juta orang dari dalam dan luar negeri, memutar uang puluhan milyar hanya dalam 4 hari, sekaligus sukses membikin jalanan macet puluhan kilometer di Kota Malang. Terlepas dari semua itu, penggagas acara ini patut diapresiasi, karena kontribusinya dalam melestarikan seni dan budaya bangsa serta mempromosikannya pada khayalak ramai.

Namun, alangkah ruginya jika kita memaknai Festival Malang Kembali hanya sebatas acara klangenan (hiburan), hura-hura, dan turisme seni-budaya. Tentu, dibalik penyelenggaraan acara ini, terselip sebuah pesan halus kepada seluruh pengunjung. Hal itu tercermin pada kata ‘Kembali’. Apa gerangan maknanya?

Kata ‘Kembali’ bisa diartikan dengan seribu cara. Salah satunya adalah; kembali kepada keluhuran budi dan keteduhan perilaku masyarakat tempo dulu. Di era globalisasi dan modern ini, manusia semakin individualistis dan tak mengenal lagi sifat altruistik (saling tolong-menolong) dalam kehidupannya. Hal ini bisa dibuktikan dengan semakin memudarnya semangat gotong royong dan musyawarah mufakat di kota-kota besar. Manusia juga mulai melupakan ajaran para leluhur tentang kerendahan hati, kejernihan berpikir, kedalaman spiritual, serta kedekatan dengan alam dan Tuhan. Pokok-pokok ajaran dan sikap semacam itulah yang seharusnya ditanamkan pada alam mental dan rohani para manusia modern melalui acara Festival Malang Kembali.

Oleh karena itu, Festival Malang Kembali tidak bisa dimaknai hanya dengan simbolisme-simbolisme seperti pakaian, makanan, minuman, aksesoris, dan lain sebagainya yang dimundurkan ratusan tahun alias mode jaman dulu. Semua simbol itu tak akan ada gunanya apabila esensi ajaran moral, etika, dan perilaku, yang sebetulnya adalah pesan paling halus dari acara tersebut, ditenggelamkan begitu saja. Maka, setelah bergembira-ria dan cengengesan dalam acara ini, kita akan pulang dengan tidak membawa apa-apa. Kita tidak akan mendapat pelajaran apapun, dan tidak akan tergerak untuk meneladani sikap-sikap luhur para pendahulu kita. Walaupun kadang tetap diperlukan semacam filter budaya serta sedikit modernisasi dalam penerapan sikap-sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan pelajaran kedua coba diajarkan melalui romantika para kusuma bangsa kita dalam mengusir para penjajah. Tentu adanya simbol-simbol perjuangan tersebut tidak hanya untuk kita tonton apalagi kita museumkan. Namun, nilai-nilai kepahlawanan, nasionalisme, serta sikap perjuangan tanpa takut dan pamrih dalam membela kebenaran-lah yang harus kita teladani dan lakukan.

Yang harus diingat, para leluhur kita dulu mengenal dua ajaran, yakni ngelmu dan laku. Ngelmu artinya mencari ilmu. Dalam Festival Malang Kembali seharusnya kita sudah mendapat ilmu-ilmu sebagaimana sudah saya jabarkan diatas. Jika ilmu sudah didapat, maka kita harus laku alias melakukannya. Jika kesadaran semacam ini dimiliki oleh para pengunjung Festival Malang Kembali, maka acara ini memang benar-benar bermanfaat dan tidak hanya buang-buang duit dan waktu belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: