Pembodohan-Pembodohan Audiovisual

Kita perlu berterimakasih pada seorang Luna Maya. Mengapa? Sebab, gara-gara kasus perseteruannya dengan wartawan infotainment, kita kembali disadarkan: betapa sampahnya infotainment itu.

Infotainment adalah information and entertainment. Saya tak peduli apa kata pakar bahasa atau pakar informasi tentang makna ’infotainment’ ini. Saya juga berhak membuat definisi sendiri. Informasi hiburan, menurut saya, adalah informasi yang bersifat / untuk hiburan. Lantaran demi kepentingan hiburan, maka informasi yang disajikanpun selayaknya adalah yang ringan-ringan dan menghibur. Semakin ringan maka semakin baik, dan sebisa mungkin menghindari membicarakan hal-hal yang penting dan genting. Jadi yang diangkat adalah hal-hal yang tak penting untuk dikonsumsi publik. Maka jadilah apa yang saya sebut ’sampah audiovisual’, yakni sampah yang diaudiovisualkan, dikabarkan pada khayalak ramai, dan dilabeli ’PENTING’.

Suatu ketika Luna Maya pernah mengeluh dan merasa risih lantaran dulu ia pernah ditanyai seputar pakaian dalam. ”Apa pentingnya coba?”, katanya. Saya bingung, kita semua juga pasti bingung. Pakaian dalam untuk dibicarakan di televisi yang bisa disiarkan hingga menembus rumah-rumah, kamar-kamar, hingga ke mata dan otak si anak TK dan SD. Saya jadi bertanya, dimanakah letak nilai signifikansi dan edukasi dari membicarakan soal pakaian dalam artis? Indonesia ini punya sejuta masalah super penting, lalu apakah dengan membicarakan dan mendiskusikan pakaian dalam artis maka soal kemiskinan dan pengangguran akan teratasi? Memang tidak ada hubungan linier macam itu, tapi hal ini mencerminkan; betapa kita justru akan mengalami pendangkalan akal di tengah karut-marutnya dunia jika kebanyakan menonton infotainment.

Itu soal pakaian dalam. Lain lagi soal lika-liku kehidupan selebritis, pacar baru artis, perceraian, perselingkuhan, gaya hidup hedonis nan glamor, semua diekspos secara apik dan menarik untuk kita ’makan’ sebagai hidangan yang sehat bergizi tiap hari. Alih-alih membicarakan prestasi dan inspirasi yang bisa digali dari para pesohor negeri, infotainment justru lebih menyukai membicarakan hal-hal yang sifatnya privat dan tabu. Bahkan bisa dikupas secara tajam setajam silet. To cut a long rotten story short, infotainment berhasil secara gilang gemilang mengangkat hal-hal tak penting hingga memiliki nilai penting bagi masyarakat. Hal ini juga pastinya berkenaan dengan urusan rating siaran, pendapatan, keuntungan finansial serta penghargaan biang gosip (tahu sendirilah). Kalau pakai istilah politisi, maka kata yang cocok adalah ”PEMBERDAYAAN (hal tak penting menjadi sangat penting)”

Kronis. Dimana otak para pelaku industri infotainment itu? Mungkin sudah tertutup gemerlap duit. Bayangkan, jika berita sampah itu dianggap penting dan dikabarkan secara persistent, maka masyarakat akan segera kehilangan kemampuan untuk membedakan mana hal yang penting dan mana hal yang nggak penting. Rakyat akan buta nilai, sebab batasan signifikansi nilai telah kabur. Maka hasilnya, membicarakan tunangan baru artis (yang sebenarnya tidak ada urusannya sama kita) adalah sangat-sangat penting, sedangkan membicarakan makna sila pertama Pancasila dalam kehidupan beragama dan bernegara adalah hal tak penting dan membosankan. Yang paling parah, tato kupu-kupu di kaki seorang artis adalah berita heboh, namun ‘tato’ permanen berwarna merah-hitam hasil setrikaan majikan di punggung saudari-saudari kita di negeri orang bukanlah berita penting.

Bolehkah saya sebut ini sebagai semacam ’pembodohan masal’? Kalau tidak boleh, bagaimana dengan ’pendangkalan sistematis’? Kalau masih dilarang, boleh saya katakan sebagai ’pendegradasian akal sehat kolektif secara legal’? Atau sebutlah apa saja sesukamu. Omong kosong kita mau mencegah anak-anak kita dari bahaya narkoba, bahaya free sex, bahaya kehidupan malam, toh rata-rata berita infotainment yang jauh lebih parah bisa eksis, malah seringkali infotainmentlah yang dengan sigap mengabarkan perilaku artis kita yang tidak baik. Pelanggaran nilai dan norma sudah terlalu sering dipertontonkan di televisi. Pamer atau demonstrasi gaya hidup mentereng ala artis, cara berpakaian, dan sebagainya, kiranya selalu setia nongol di layar kaca. Oh ya, saya juga terlalu sering (sengaja atau tidak sengaja) melihat paha-paha mulus di TV.

Haruskah saya mengikuti fatwa MUI bahwa infotainment adalah ’ghibah’? Saya rasa tak perlu. MUI itu aneh. Maaf ya, Bapak-Bapak yang duduk di MUI. Memang soal agama Bapak-Bapak jauh lebih pandai dari kami rakyat biasa. Tapi, kami juga dari dulu sudah tahu yang namanya infotainment itu adalah ajang nggosip. Dan yang namanya nggosip itu adalah membicarakan orang lain. Kalau yang dibicarakan benar, maka itu disebut ’ghibah’, kalau dusta namanya ’fitnah’. Tanpa MUI mengeluarkan fatwapun, rakyat yang berotak waras semestinya sudah duluan ’memfatwa’ ghibah. Maka cara terbaik: kita rubah saja kebiasaan kita bersama.

Infotainment bisa eksis, sebab konsumennya memang ada, yaitu kita semua. Orang kita memang terkenal suka nggosip, kebiasaan ngerumpi. Kita suka membicarakan urusan orang yang tidak ada sangkut pautnya sama kita. Bahkan soal-soal yang tidak penting dari orang lain, buat kita adalah harta karun. Alih-alih membicarakan manfaat yang bisa kita ambil dari orang tersebut, kita lebih eksis jika kita membicarakan sisi ‘lainnya’. Peluang inilah yang ditangkap oleh para jurnalis berotak kaleng dan produser kapitalis untuk berlomba dan berkreasi menawarkan satu paket informasi hiburan dari pesohor-pesohor negeri. Maka produk itupun laris manis di pasaran. Saya tahu walau saya nggak paham dunia rating-ratingan televisi. Alasannya sederhana: Lha wong sampai sekarang acara-acara gosip masih eksis kok, bahkan semakin berkembang biak dan berkembang baik.

Sedikit cerita, di salah satu TV swasta pernah ada diskusi seru mengenai hal ini. Singkat cerita, sang pro-infotainment berkilah bahwa semua media punya pemberitaan macam itu. Semua TV punya, semua koran punya. Tapi si Bapak itu miss waktu bilang, ”…Kompas punya ’Nama dan Peristiwa’. Pernah pula menyoroti kehidupan seorang pejabat!” dijawab santai, ”Itu karena memang ada sangkut pautnya dengan kepentingan publik, Pak!”. Maka bisa disimpulkan, kehidupan pribadi siapapun, yang mempunyai sangkut paut, hubungan, atau kepentingan yang menyangkut kepentingan publik, saya rasa boleh dikabarkan. Minimal, sebuah pemberitaan haruslah memiliki nilai keilmuan, nilai kebenaran, dan nilai manfaat. Membicarakan kehidupan Anggodo Widjoyo jauh lebih berguna (misalnya, dalam rangka menganalisis kasusnya) ketimbang terbengong-bengong berfantasi di depan TV mendengar liputan tentang pakaian dalam artis ibu kota, ”Pemirsa, tahukah Anda?? Artis kita ini ternyata memakai pakaian dalam berwarna-warni! Hijau Kuning dan Biru! Bahannya dari sutra Tiongkok! Bla bla bla…”

Saya sih malas mengajak pembaca biar tidak menonton infotainment. Itu urusan kalian sendiri, kalian lebih pandai dan ngerti dari saya. Kalianlah yang bisa menentukan penting tidaknya gosip selebritis. Mungkin memang ada juga hal baik dan edukatif yang dikabarkan disana, tapi takarlah sendiri berapa kadar signifikansinya. Jangan harap otak kita akan makin matang dan dewasa, kalau kita baru sampai pada titik ‘meributkan perkara remeh temeh selebriti negeri’. Oi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: