Mudahnya Menjadi Orang Jujur

Jujur itu mudah. Yang sulit adalah menjadi jujur. Ya, proses menjadi jujur, jauh lebih sulit ketimbang menjadi wakil rakyat.

Dengan jujur saya katakan, bahwa ketika saya menulis artikel ini bukan berarti saya sudah menjadi orang yang benar-benar jujur hingga bisa berbagai tips dan trik untuk menjadi pribadi yang jujur. Saya dengan jujur mengatakan bahwa saya ini bukanlah orang yang jujur, sebab yang namanya kejujuran bagi saya adalah suatu proses yang masih dan akan terus berlanjut.

Apa lagi sih yang bisa kita lakukan selain menjadi orang jujur? Apa lagi yang bisa kita lakukan sebagai wong cilik selain mencoba hidup dengan jujur? Dan apa yang menarik dari hidup yang serba rumit ini selain menjadi orang yang senantiasa jujur, sebagaimana dicontohkan para nabi.

Kita tak perlu sekolah tinggi untuk menjadi jujur. Tak perlu kita bergelar S2 atau S3 untuk bisa mendapatkan predikat jujur. Dan yang namanya kejujuran tidak bisa digelarkan dengan gelar apapun. Jujur adalah jujur.

Kenyataannya, tak sedikit orang yang bergelar tinggi namun tidak jujur. Banyak wakil rakyat yang tidak jujur, banyak pula tokoh, agamawan, politisi, seniman dan sebagainya yang tidak jujur. Memang kejujuran bukanlah obrolan yang menarik dalam hidup yang serba sulit ini.

Kita harus mengakui dengan jujur bahwa kita, baik saya dan kalian, bukanlah orang yang jujur. NAMUN, tak ada alasan bagi orang seperti kita untuk tidak belajar menjadi orang yang jujur. Bayangkan, jika kalangan bawah sudah tidak jujur, dan kalangan atas juga tidak jujur, mau seperti apa kehidupan ini? Jangan-jangan kejujuran sudah dimuseumkan.

Ketika seorang penguasa melihat segepok uang sodoran seorang cukong yang ingin membeli ijin penjarahan hutan, tentu yang lebih menarik bagi penguasa setempat adalah mengiyakannya lalu mengambil uang itu. Maka habis perkara. Tapi jujurkah penguasa tersebut pada dirinya sendiri kalau sebenarnya ia membohongi hati nuraninya sendiri dan mengorbankan hak rakyatnya demi segepok uang?

Ketika seorang yang gemar berjalan-jalan ke mall dan melihat Blackberry yang sungguh menarik hati, iapun jatuh hati dan timbul hasrat untuk memiliki. Maka segala cara akan diusahakan demi membawa pulang handphone tersebut, namun, jujurkah ia pada dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang itu?

Ketika seorang oposisi pemerintah yang jeli melihat situasi, lalu merebakkan rumor dan membentuk opini publik sambil berusaha menjatuhkan pemerintah dengan melemparkan bermacam stigma negatif atas nama rakyat, lalu mendorong rakyat untuk mulai memaki-maki Presidennya tanpa alasan yang masuk akal, dimana kebenaran seolah hanyalah milik massa, mayoritas, atau orang banyak, sehingga kebenaran hanyalah dianggap sebagai nilai nominal yang bisa dimanipulasi. Jujurkah tokoh tersebut pada dirinya sendiri tentang tujuan politisnya yang sesungguhnya yang berbaur dengan keinginan mulia untuk memperjuangkan nasib rakyat?

Ketika seorang kiai dengan penuh wibawa melenggang ke mimbar, membacakan kitab kuning dan mendalilkan ayat-ayat suci kepada orang banyak yang berposisi sebagai pendengar, sebagai tempat untuk didakwahi, sebagai tempat yang penuh salah dan dosa sehingga perlu untuk diceramahi tentang surga dan neraka. Sudahkah kiai itu jujur pada dirinya sendiri bahwasahnya ia sebenarnya tidak lebih mulia daripada orang-orang yang diceramahinya?

Jujur memang mudah. Kita bisa saja setiap saat mengaku bahwa kita ini jujur. Kita bisa mengaku di depan Polisi bahwa kita tidak mencuri ayam. Kita bisa berkilah di depan Pengadilan bahwa kita tidak menggelapkan uang pajak. Bahkan kita berani bersumpah dibawah kitab suci bahwa kita tidak membunuh seseorang. Kitapun bisa mengumumkan di media massa pada rakyat banyak bahwa kita ini benar-benar bersih, benar-benar jujur. Kita bisa meyakinkan mereka, kita bisa membuat mereka percaya bahwa kita ini benar-benar jujur. Namun letak kejujuran yang sejati, hanya kitalah sendiri yang tahu dimana tempatnya. Makanya saya katakan, jujur itu mudah, yang sulit itu menjadi jujur.

Benarkah jujur itu tidak makan? Jujur tersingkir? Mungkin saja iya, jika kita menjadi jujur ditengah ketidakjujuran yang berkonspirasi dengan kemunafikan. Namun toh, apa arti hidup yang singkat ini jika diwarnai dengan ketidakjujuran? Buat apa hidup yang busuk dipertahankan dengan cara yang tidak jujur hanya demi hidup itu sendiri. Kita bahkan tak kuasa untuk mempertahankan hidup yang mulia dengan jalan menjadi jujur.

Kita gagal menjadi jujur pada diri sendiri. Kita gagal menjadi jujur pada orang lain. Kita gagal menjadi jujur pada Tuhan. Kita ini lebih berhasil jika kita dipaksa untuk meninggalkan kejujuran. Ya, jika dipaksa. Artinya, sebenarnya kita ini punya potensi untuk tetap mempertahakan kejujuran kita. Hanya, terkadang kita ini lebih tertarik untuk ’dipaksa’, bahkan kita rela dipaksa tidak jujur. Soalnya tidak jujur dalam situasi tertentu itu terkadang lebih aman, lebih menguntungkan. Dan kita samasekali tidak memikirkan sakitnya hati kita yang kita bohongi sendiri.

Menjadi jujur bukanlah alasan bagi kita untuk belajar jujur sambil sesekali melakukan ketidakjujuran. Itu juga kurang tepat. Kita tak bisa berlindung dibalik kata ’proses’ untuk membenarkan ketidakjujuran kita dalam proses menjadi jujur. Kita harus sadar diri, bahwa mengaku kita ini tidak jujur jauh lebih jujur ketimbang mengaku bahwa kita ini jujur. Maka, ketika dalam proses menjadi jujur kita melakukan ketidakjujuran, kita harus jujur bahwa kita telah melakukan ketidakjujuran itu sambil menyusun strategi bagaimana agar dimasa mendatang ketidakjujuran itu tidak terulang lagi, bukan malah melestarikan.

Alkisah suatu ketika Rasul bertemu seseorang yang ingin masuk Islam. Orang itu berkata bahwa ia masih berat untuk melakukan sholat, tapi ia ingin masuk Islam. Maka Rasul hanya memberinya satu syarat; ia tidak diharuskan untuk melakukan sholat, namun ia hanya diminta jujur. Maka iapun masuk Islam. Hari demi hari, ketika bertemu Rasul, orang itu berkata bahwa ia masih sulit untuk sholat. Pertemuan selanjutnya ia mengatakan hal yang sama. Begitu seterusnya. Namun lama-kelamaan ia merasa malu kepada Rasul karena ia tidak pernah sholat dan akhirnya berkat kejujurannya itu (mengaku tidak sholat setiap kali bertemu Rasul), iapun sadar diri dan akhirnya ia bisa menjalankan salah satu perintah Allah tersebut. Alangkah nikmatnya kejujuran, ayo kita sama-sama menjadi jujur di jaman yang penuh ketidakjujuran ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: