Menjadi Sarjana I.P.

…Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan…”

WS. Rendra (Sajak Sebatang Lisong)

Selain masalah plagiarisme dunia pendidikan, ada satu masalah lagi yang harus dipecahkan dalam dunia pendidikan. Yakni masalah mindset para mahasiswa dan lulusan yang bergelar Sarjana IP (Sarjana Indeks Prestasi). Sarjana IP adalah sekumpulan pelajar yang tak memahami hakikat belajar. Dan, tak ada alasan bagi para mahasiswa sejati untuk menjadi lulusan bergelar S.I.P (Sarjana I.P)

Mahasiswa IP adalah mereka yang masuk kuliah hanya demi satu misi: IP tinggi. Tiada lain. Singkat kata, IP tinggi itu berarti pekerjaan menjanjikan kelak di masa depan. Entah bagaimana cara berpikirnya, yang pasti, kuliah bukan lagi jadi tempat menuntut ilmu dan pusat kegiatan intelektual, namun hanya sekedar tempat mencari nilai. IPK summa cum laude, cum laude, kiranya adalah gelar prestisius yang mereka kejar mati-matian dan mereka anggap mampu mewakili segala kegeniusan mereka.

IP tinggi bisa didapatkan secara halal dan haram. Jika kita telah belajar rajin dan sungguh-sungguh serta mematuhi segala macam aturan, IP tinggi adalah hasil yang sangat pantas kita syukuri dan kita dapatkan. Itu adalah cara yang baik. Namun bilamana ’hasil’ itu sudah dianggap harga mati, maka segala cara akan dilakukan demi mendapatkan nilai selangit. Saya pernah dengar bahwa di sebuah universitas negeri, beberapa mahasiswi sengaja mengumpankan dirinya pada dosen bermoral rendah hanya demi sebuah nilai. Cara lainnya adalah segala trik kecepatan tangan yang dilakukan kala ujian, hanya demi nilai, 3D (datang, duduk, dengar), mengangguk-angguk di depan dosen, manut, menghindari perdebatan dengan dosen (mahasiswa-tanpa-argumentasi), membenarkan segala yang dikatakan dosen sekalipun salah bahkan bila perlu menjilat dosen dengan berbagai cara. Pantas saja jika dikatakan mahasiswa tak pernah takut pada pemerintah dan aparat, tapi mahasiswa takut pada dosen!

Tak semua mahasiswa seperti itu. Banyak sekali mahasiswa yang tak ambil pusing dengan nilai. Sebab, apa yang mereka cari dalam proses perkuliahan hanyalah ilmu. Bagi seorang pencari ilmu sejati, ilmu akan lebih memuaskan dahaga intelektual ketimbang nilai. Ilmu jauh lebih berguna dan bermanfaat dalam dunia kerja dan kehidupan ketimbang nilai. Dan ilmu adalah alasan kenapa mereka masuk kelas setiap hari.

Semua itu bisa dibuktikan. Mereka yang mendapat nilai tinggi (walaupun sesungguhnya bukan itu yang mereka kejar) dengan cara yang baik, benar, dan senantiasa kritis terhadap segala hal, sangatlah berbeda dengan mereka yang memburu nilai dengan cara-cara yang salah. Dan stereotype keliru yang secara tak sengaja berkembang dalam dunia perkuliahan adalah: semakin tinggi IP maka masa depan akan semakin cerah. Semakin tinggi IP maka itu semakin baik. Benarkah? Tentu tidak.

Saya rasa perusahaan tidak menilai kualitas pelamar kerja hanya dari IP tinggi yang ia sodorkan. Banyak sekali aspek yang menjadi pertimbangan seperti kemampuan, pengalaman, motivasi, kepribadian, dan sebagainya. IP hanyalah prasyarat formalitas. IP tidak menentukan posisi. Maka bisa dikatakan: Nilai (IP) adalah sampah pendidikan.

Mahasiswa bukanlah pemburu nilai. Apa artinya nilai? Apalagi yang namanya IP, yang sangat subyektif berdasarkan hak prerogatif penilaian dosen. Entah kriteria apa yang membuat penilaian IP begitu subyektif, hanya dosen dan Tuhan yang tahu. Sekalipun mahasiswa diberi tahu kriteria yang ia inginkan, keputusan akhir tetap unpredictable. Maka sebaiknya, mahasiswa tidak usah memusingkan itu. Mahasiswa harus berhenti berburu nilai. Mahasiswa harus mencurahkan segala pikiran dan tenaga hanya untuk menuntut ilmu. Dan yang paling penting, mahasiswa harus berperan serta dalam masyarakat dan menyumbang andil dalam pembangunan, dengan sejuta cara semampu mereka.

Mahasiswa aktivis adalah contoh mereka yang mau mencoba berbuat sesuatu demi masyarakat, apaun hasil akhirnya. Mereka mau meninggalkan kelas dan ujian, mempersetankan nilai, mereka merobohkan dinding eksklusifitas pendidikan dengan turun ke jalan dan meneriakkan ketidakadilan. Sedangkan mahasiswa yang bergerak pada arus pemikiran, adalah mereka yang tak hanya memikirkan soal pelajaran apalagi nilai. Alih-alih hanya memikirkan pelajaran, naluri intelektualitas mereka akan senantiasa bergerak secara dinamis untuk memecahkan segala persoalan yang ada di sekitar mereka dan mengembangkan bermacam gagasan kreatif. Bagi mereka kuliah adalah jalan untuk ’melakukan sesuatu’ bagi masyarakat luas. Dua unsur mahasiswa ini, sebenarnya adalah pelajar sejati, sekalipun nilai mereka mungkin jauh lebih rendah ketimbang para mahasiswa pemburu nilai.

Sungguh malang jika seorang mahasiswa tidak mampu keluar dari jeratan tuntutan nilai. Ilmu malah akan sulit ia dapatkan sebab konsentrasinya hanyalah pada nilai. Maka tak ayal, saat lulus nanti, mereka dengan senyum ambisisus penuh kepalsuan telah didaulat menjadi ’sarjana’ yang notabene dahulu berarti orang terpelajar namun sekarang hanya diartikan sebagai lulusan perguruan tinggi. Soal kecakapan dan kemampuan? Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Sarjana macam inilah yang membentuk sarjana yang tak bisa apa-apa, sarjana macam inilah yang membuat pendidikan kita gagal menjawab segala macam persoalan bangsa, dan sarjana macam inilah yang memapankan formalitas dangkal dunia pendidikan. Maka jangan pernah bertanya pada sarjana model begini tentang apa yang bisa ia persembahkan untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: