Mengubah Trilogi Mentalitas Satpol PP

Salah satu fundamen penting dalam demokrasi adalah musyawarah. Musyawarah melibatkan unsur dialektika dan persuasi. Demokrasi wajib menghindari hal-hal yang berbau represi, feodalisme, apalagi anarki. Namun yang terjadi pada Rabu, 14 April 2010 di Koja, Jakarta Utara, adalah sebaliknya. Eksekusi pembongkaran paksa bangunan di sekitar makam Mbah Priok yang dilakukan 2000 anggota Satpol PP dan 640 personel kepolisian mendapat perlawanan sengit dari warga. Tak ayal, korban berjatuhan di kedua belah pihak. Tiga nyawa melayang dan ratusan lainnya terluka. Sungguh memprihatinkan.

Dalam kebudayaan feodalisme Jawa, pamong projo bertugas untuk melindungi, menertibkan dan mengatur kehidupan para kawulo -stigma sewenang-wenang yang ditempelkan pada rakyat jelata. Pamong projo tunduk sepenuhnya pada pangreh projo (pemerintah negara) yang membikin hukum berdasarkan Daulat Raja. Maka yang terjadi adalah pertunjukan penindasan rakyat jelata yang dianggap subversif melalui cara-cara yang represif menjurus anarkis. Hal ini bisa dipahami sebab pamong projo dididik secara semi-militer yang penekanan implisitnya terletak pada mentalitas feodal dan represif.

Hal yang sama belaku sampai sekarang. Pamong projo, dalam hal ini Satpol PP, sebagai kaki tangan pangreh projo selalu bertindak sebagai oknum yang bertugas untuk ‘menertibkan’, yang sebetulnya tak berbeda jauh dengan ‘menggusur paksa’. Hal ini tentu tidak bisa dibenarkan. Penggusuran paksa secara sepihak tanpa ada upaya musyawarah, dialog, dan persuasi adalah sebuah bentuk pelecehan terhadap wilayah-wilayah kedaulatan rakyat, yang tidak semestinya dicampurtangani oleh oknum pangreh projo dan pamong projo. Jika terjadi friksi antara kepentingan rakyat dengan kepentingan pihak lain, tugas pemerintah dan Satpol PP adalah memediasikan atau mendialogkan kedua pihak sebelum kasus tersebut dibawa ke meja hijau, terlebih sebelum terjadi tindakan serupa penggusuran atau pembongkaran. Pola sebaliknya, yang terjadi pada kasus sengketa makam Mbah Priok, harus segera ditinggalkan. Dan yang paling penting yang harus dipahami adalah kenyataan bahwa pamong praja sebagai oknum penegak hukum tidaklah serta merta menjadikan rakyat sebagai wilayah terapan hukum sementara mereka berada di luarnya.

Gabungan ketiga mental tersebut, represif-feodal-militeristik, justru akan semakin menjauhkan citra pamong praja sebagai abdi rakyat yang seharusnya melayani rakyat dengan hati. Maka jangan salahkan rakyat jika segala upaya penertiban yang dilakukan pamong praja akan selalu diterjemahkan sebagai upaya penggusuran semena-mena yang harus dilawan. Stigma arogan sudah terlanjur melekat pada mereka lantaran pengalaman-pengalaman buruk yang selama ini dirasakan rakyat selama berurusan dengan pamong praja.

Namun tentunya kita tidak ingin hal yang demikian ini terus-menerus terjadi. Pamong praja dibiayai dan difasilitasi oleh rakyat bukan untuk menindas ‘majikan’nya, namun untuk menyelenggarakan pelindungan dan ketertiban bagi kehidupan rakyat. Lebih jauh, anggota pamong praja sebetulnya adalah anggota masyarakat juga. Kesalahan bukan terletak pada anggota pamong prajanya, sebab mereka hanya menjalankan tugas dan ‘mempraktekkan’ apa yang diajarkan selama masa pendidikan. Oleh karena itu, sudah waktunya trilogi mentalitas tersebut diubah dimulai dari masa pendidikan pamong praja. Pada jenjang ini, yang harus ditekankan pada calon pamong praja adalah kearifan musyawarah, dialog, dan persuasi. Sebab bagaimanapun juga, dalam beberapa urusan rakyat masihlah membutuhkan pamong praja. Pamong praja harus semakin dewasa dan berperan serta dalam menciptakan iklim kehidupan yang saling menghormati dan tepo sliro agar semua pihak benar-benar merasa dilindungi dan diayomi olehnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: