Menggugat Ospek Kampus

Masa orientasi mahasiswa seringkali menjadi momok menakutkan bagi para maba (mahasiswa baru). Hal tersebut bisa dimaklumi, mengingat model perploncoan di beberapa kampus memang cenderung semi-militer menjurus kasar.

Cukup banyak hal yang patut digugat dari ospek semacam ini. Budaya bentak-bentakkan misalnya. Budaya semacam ini mengadopsi ospek masa lalu dimana maba digembleng sekeras mungkin agar mereka memiliki keberanian dan militansi melawan rezim penguasa yang menindas. Namun kini, budaya semacam itu sungguh basi dan jauh dari kesan intelek mahasiswa.

Para penggembleng dan senior berdalih bahwa membentak maba adalah salah satu bentuk pelatihan mental dan kedisiplinan. Alangkah naifnya jika kita menyangka bentakan bisa membuat seseorang tiba-tiba memiliki mental tangguh dan kedisiplinan tinggi. Membentuk mental dan kedisiplinan adalah proses panjang yang tak bisa disederhanakan hanya melalui bentakan, yang lebih terkesan sebagai arogansi senioritas ketimbang semangat persaudaraan konstruktif. Terlebih, tak ada jaminan bahwa para penggembleng dan senior memiliki mental dan kedisiplinan yang lebih baik dari maba.

Juga soal barang bawaan yang tidak jelas gunanya. Maba disuruh membawa barang-barang aneh dengan tenggat waktu yang hampir tidak masuk akal. Hukuman disediakan bagi mereka yang tidak membawa apa yang sudah ditentukan panitia ospek. Selain pemborosan, orangtua maba juga kelimpungan setengah mati memenuhi ketentuan tersebut.

Ospek sejatinya adalah pengenalan kehidupan kampus kepada para maba. Dalam ospek ditanamkan nilai-nilai kemahasiswaan dan dijelaskan peranan mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Setiap calon mahasiswa dituntut untuk memiliki kesadaran bahwa ketika ia sudah bergelar ‘mahasiswa’, ia sudah harus menyadari kewajiban-kewajibannya, baik sebagai pelajar maupun sebagai anggota masyarakat. Para senior dalam hal ini berperan sebagai pendamping maba agar mereka siap terjun kedalam benteng intelektualitas bernama kampus serta realitas masyarakat.

Membentak, memaki, menghukum, dan sederet kekerasan baik fisik maupun verbal lebih cocok jika dilakukan oleh sesama anak taman kanak-kanak. Mahasiswa bukanlah anak TK yang harus dibentak untuk melakukan sesuatu. Panitia ospek seharusnya tak punya waktu untuk mempersiapkan ajang penggemblengan buta macam itu. Sederet hal tersebut diatas hanya akan menimbulkan kebencian dan dendam di hati maba, yang kelak akan melampiaskan dendamnya pada maba-maba angkatan selanjutnya. Maka sudah waktunya model perploncoan seperti ini digugat.

Sebuah kampus swasta di Malang pernah mengadakan ospek yang bersahaja. Selain mengenalkan kampus, para penggembleng dan senior mengajak para maba berkeliling kota dengan membawa tas kresek untuk memunguti sampah-sampah. Semua dilakukan tanpa bentakan, namun lebih ke semangat kekeluargaan. Contoh kecil tersebut lebih nyata manfaatnya dan bernilai. Mahasiswa, yang digadang-gadang sebagai generasi penerus bangsa, harus mulai meninggalkan budaya kekerasan sedari masa orientasi. Salah satu caranya, dengan mengkaji ulang kebijakan ospek di beberapa kampus yang masih ‘tradisional’ dengan mahasiswanya yang bermental ‘sok jagoan’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: