Komunalisme atau Kolektifitas?

Sebenarnya, kita tidak boleh memandang sinis mahasiswa yang enggan berorganisasi. Keengganan mahasiswa berorganisasi tidak bisa disimpulkan sebagai satu bentuk apatisme maupun kemalasan mahasiswa. Bisa jadi ada banyak hal yang lebih penting dan mendesak yang harus dilakukan mahasiswa, misalnya bekerja paruh waktu.

Lagipula, kegiatan utama mahasiswa bukanlah berorganisasi, melainkan belajar dan berkarya. Organisasi hanyalah salah satu jalannya. Andaikatapun ingin berorganisasi, mahasiswa harus jeli memilah dan memilih organisasi-organisasi yang ada di kampus. Sebab jika tidak, mereka akan tersandera ke dalam satu organisasi, kesatuan ideologi, yang mendasarkan tindakan dan pemikirannya pada kesadaran dan pemahaman komunal. Mereka akan mudah dimobilisasi secara massal untuk melakukan, mendukung, atau menolak satu kegiatan tertentu nyaris tanpa kritik dan dialektika. Organisasi yang baik adalah yang mengedepankan kolektifitas pribadi-pribadi independen dengan asas kerja sama.

Komunalisme organisasi justru akan mematikan kesadaran dan pengetahuan individual mahasiswa serta melemahkan daya kreatifitas dan sikap kritis mahasiswa. Mahasiswa menjadi tak lebih dari sekedar ‘kerumunan’ dan ‘kumpulan’ tanpa isi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: