Ilusi Nyata Pendidikan Kita

Hasil UN siswa-siswi SMA. SMK, dan SMP tahun ini dinyatakan anjlok secara nasional. Yang lulus: sujud syukur, menangis, konvoi, hura-hura. Yang tidak lulus: nangis juga, stress berat, bahkan ada yang bunuh diri. Lagi-lagi kebiasaan kita adalah pura-pura kaget. UN itu kontroversial dari tahun ke tahun. Lulus tidaknya anak-anak kita tidak pantas untuk dipermasalahkan. Yang sangat pantas dipermasalahkan adalah UN itu sendiri sebagai bagian dari sistem pendidikan kita yang sarat ilusi. Pendidikan kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang tidak substansial, hal-hal yang sifatnya formal bahkan seremonial, dan ujung-ujungnya selebratif.

Padamu Yang ‘Lulus’

Siswa SMP lulus dan menangis haru. Siswa SMA-SMK juga. Apa-apaan itu? Sistem pendidikan kita sukses memaknai ‘kelulusan’ sebagai sesuatu yang sangat-amat luar biasa, sebuah prestasi spektakuler, sebuah titik puncak pencapaian seorang pelajar, sehingga sangat patut untuk dirayakan dan dibangga-banggakan. Kelulusan bahkan jadi komoditi media massa. Ketahuilah: lulus dari sekolah apapun tidak serta merta membuatmu berhak untuk sekedar menyandang gelar ‘pelajar’, apalagi jika kau tambahkan kata ‘sejati’. Proses pendidikan yang kau sangka benar itu, segala label dan predikat yang kau raih selama berproses, bukanlah apa-apa di hadapan kaki Sang Ilmu Sejati.

Jika kau lulus UN dan dengan amat bodoh merayakannya, tak kau sadari satu hal ini: kau bahkan tak pantas dikategorikan dalam barisan babul ilmy (Pintu Ilmu). Langkahmu terlalu kerdil untuk sekedar menengok ke dalam madinatul ilmy (Kota Ilmu). Kamu cuma seekor semut yang mungkin saja nanti bergelar Mahasiswa, Sarjana, Master, Doktor, Profesor, Pakar, Ahli, dan sebagainya, yang semuanya adalah ilusi. Namun, di hadapan al’arsy al’adhim, semesta maha agung yang tak terpahamkan ini, gelar-gelar itu hanyalah lelucon dan takhayul. Dalam bahasa bumi: kau belum pantas belajar di Global University; universitas, sekolah kehidupan. Oleh karena itu, wahai kalian siswa-siswi SMA-SMP, jangan kalian keburu bangga dengan kelulusanmu! Tanyalah dirimu sendiri, sudah pantaskah kamu dengan semua itu?

Ilusi Integral

Mari berpindah ke sistem pendidikan kita. Makin hari, pendidikan kita malah menambah masalah bangsa, bukan mengatasinya. Suatu saat kita membusungkan dada karena angka kelulusan SMA-SMK-SMP-SD naik. Kadang kita bangga satu-dua anak-anak kita berprestasi di level internasional. Tapi tahukah kamu, itu semua hanyalah ilusi dari takhayul kemajuan dunia pendidikan kita.

Pendidikan kita mengajari anak-anak sampeyan untuk menghafal dan bertanya, bukan untuk membaca, meng-iqro’ al-ilmy. Anak Anda itu dididik untuk berpikir linier, parsial, sekaligus pragmatis. Anak-anak Anda harus patuh dan tunduk sepenuhnya pada otoritas diktat-diktat, metode-metode asing, buku-buku, pemikir ini itu, tanpa bekal kemampuan untuk mengkritisi. Kalau anak Anda kritis pada gurunya, anak Anda itu kurang ajar namanya. Apa itu salah guru? Tidak! Karena para guru sewaku menjadi murid nasibnya juga sama seperti anak sampeyan. Kurikulum kita itu 90% berisi omong-kosong kesimpulan dan dialektika-dialektika usang yang tidak kontekstual dan terlepas dari masalah kehidupan. Sisanya adalah mata pelajaran klangenan alias hiburan. Kurikulum kita selain sudah sedang dan akan dijadikan arena uji coba belasan kurikulum, ia tidak merangsang siswa berpikir, tapi menghafal. Jika dikatakan anak Anda rangking 1 di kelas, berarti dia adalah master semua omong-kosong itu, yang jika keburu bangga pasti akan mengerdil di depan Kenyataan Ilmu. Ingatlah: Orang pintar itu belum tentu berilmu. Anak Anda harus pandai tapi boleh tidak bermoral dan beragama. Anak Anda diwajibkan juara kelas walaupun dengan cara-cara maling. Untuk sukses, anak Anda wajib cari cara paling cepat dan aman.

Belum tuntas masalah kurikulum, secara sangat kasar pendidikan kita mengelompokkan sekolah-sekolah menjadi 4 kelompok: 1) SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), 2) RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), 3) SSN (Sekolah Standar Nasional), dan 4) Sekolah Reguler. Pengelompokkan itu tidak dibikin dengan perancangan yang matang, pemetaan konsep dasar pendidikan, pemetaan pola sosio-kultural masyarakat, serta perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang jelas. Para teknokrat pembikin stratifikasi itu tak punya banyak waktu untuk melakukan semua itu. Sederhana saja, pembagian itu hanya didasarkan pada besar-kecilnya uang. Orangtua, sebagai pasar ekspansinya, selain akan disortir berdasarkan kemampuan finansialnya, mereka juga akan diundang untuk memasuki dan melanggengkan ilusi massal ini dengan penawaran gengsi atau prestige, yang dilandasi mentalitas kemaruk, education as a lifestyle yang dipadu dengan ketidakpahaman alias kebodohan akan tipuan ‘Taraf Internasional”. Ternyata, orang kaya dan orang kemaruk bisa bodoh juga. Tak kalah bodohnya, Pendidikan Yayasan kemarin mengalami percobaan pembunuhan oleh UU BHP. Beruntung kita masih punya nurani untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Tak perlu lagi berpanjang lebar, satu solusi radikal saya tawarkan. Netralisir semua sekolah dari label-label eksklusif itu. Kalau tak mampu, apa pemerintah tak malu? Menyekolahkan anak negeri secara gratis saja tak mampu, malah anak negeri yang ingin sekolah dipalaki. Stratifikasi sekolah bertentangan dengan hak dasar memperoleh pendidikan yang dijamin Undang-Undang. Setelah itu, bongkar kurikulum kita. Bukan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang salah kaprah itu, tapi Kurikulum Berbasis Berpikir, yang intinya demistifikasi dan desakralisasi guru, diktat, buku, dan seterusnya. Pendapat para ahli dan pemahaman guru bukanlah sabda Nabi yang haram disangkal. Siswa harus mulai berpikir untuk menggunakan otaknya sendiri dalam mendialektikakan ilmu pelajarannya itu dengan kenyataan aktual. Dan guru hanyalah moderator yang harus berbesar hati jika, meminjam istilah Rendra, diinjak kepalanya oleh murid. Diharapkan, lulusan sekolah tidak lagi menjadi ilmuwan yang terpisah dari kehidupan.

Makanya, menjadi murid saja sebetulnya sudah susah, maka apa kau masih mau merayakan dan termehek-mehek atas lelucon kelulusanmu itu? Oi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: