Erotisme Joget Budaya

Acara orkes musik dangdut barangkali sudah amat lumrah bagi kebanyakan kalangan di negeri ini. Tak hanya yang disiarkan secara langsung atau tunda di televisi, orkes musik dangdut juga sering dipentaskan dalam berbagai acara off-air di tengah-tengah masyarakat.

Musik dangdut identik dengan goyang dan joget. Namun seiring dengan makin bebasnya masyarakat dari tuntunan moral dan etika budaya, goyang dan joget kini dikemas semakin ‘panas’ dan erotis oleh kebanyakan pedangdut wanita. Dangdut, yang notabene hanyalah satu aliran musik, berhasil dikawinkan dengan goyangan sensual nan erotis. Hingga akhirnya tercipta satu paradigma baru bahwa dangdut tanpa goyangan erotis bukanlah dangdut. Padahal, Bang Haji Rhoma Irama pernah berpesan bahwa goyangan yang dimaksud adalah goyangan yang sopan dan tidak mengumbar aurat

Saya tidak ada masalah dengan para pedangdut wanita tersebut, sebab sejatinya mereka ‘terpaksa’ melakukan semua itu lantaran tuntutan profesi dan himpitan ekonomi demi mencari makan. Mereka hanyalah korban liberalisme dan kapitalisme dunia hiburan. Yang saya tak habis pikir justru adalah kebanyakan para pelaku musik dangdut, baik dari musisi, panitia acara dangdut, hingga kalangan pebisnis yang bermain dibelakangnya, yang tega mengekspos kaum hawa sedemikian rupa hingga yang tersisa dari mereka hanya tinggal sensualitas dan seksualitas.

Hal ini sama saja dengan penghinaan dan perendahan martabat kaum wanita secara terang-terangan. Para pedangdut wanita dibayar dan dibuai dengan janji-janji popularitas agar mau berdandan seseksi mungkin dan bergoyang sepanas mungkin di hadapan penonton konsumen seni-budaya rendahan. Erotisme para pedangdut wanita itu benar-benar dijadikan konsumsi umum!

Dampak semua ini sangat sistemik. Masyarakat luas, terlebih generasi muda dan anak-anak yang terbiasa dengan suguhan semacam itu akan mengalami kemunduran moral dan kebangkrutan mental. Nilai, norma, etika, dan agama akan makin jauh ditinggalkan. Kemajuan bangsa dan negara tidak dibangun dari generasi yang mundur moralnya dan bangkrut mentalnya. Jika sudah sampai pada titik ini, janganlah kita lantas menyalahkan para pedangdut wanita tersebut. Sebab, yang paling pantas bertanggungjawab adalah para pebisnis dan kapitalis dunia hiburan yang demi keuntungan semata rela menjual dan mengekspos tontonan semacam itu kepada khalayak ramai.

Sudah menjadi tugas bersama bagi kita semua untuk merubah paradigma berpikir semacam ini. Musik dangdut tidak harus disuguhkan dengan cara seperti itu dan pedangdut wanita tidak harus berpakaian dan bergoyang sepanas itu. Mungkin hal ini terkesan simplifikatif. Namun poinnya, jika masyarakat terus menerus diberikan pengertian akan hal itu, lama-kelamaan masyarakat akan dengan sendirinya menolak suguhan rendahan semacam itu. Dan jika hal ini terjadi, adalah suatu kemutlakan bagi para pebisnis dan kapitalis dunia dangdut untuk mengubah haluan suguhannya sesuai dengan selera baru masyarakat; yakni musik tanpa goyangan erotis. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: