Bung Tomo, Berjuang Dalam Tiga Masa

Bung Tomo atau Sutomo lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920 dan meninggal dunia ketika Wukuf di Arafah tanggal 7 Oktober 1981. Pendidikannya adalah HIS Surabaya (7 tahun), HBS (5 tahun), masuk Fakultas Ekonomi UI tahun 1959 dan prayudisium tahun 1968. Istri beliau bernama Hj Sulistina Sutomo yang lahir di Malang, 25 Oktober 1925 dan dikaruniai 4 orang anak.

Bung Tomo adalah seorang tokoh yang selama ini kita kenal melalui pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang di kemudian hari diperingati sebagai Hari Pahlawan, dimana beliau tampil sebagai pembakar semangat arek-arek Suroboyo melalui corong Radio Pemberontakan. Beliau pernah menjadi seorang wartawan DOMEI, selain sebagai seorang pemikir, agitator ulung, politisi, penulis buku, bahkan juga pernah menjadi seorang perwira militer dengan pangkat Mayor Jenderal.

Namun lebih dari itu, Bung Tomo sesungguhnya adalah sosok seorang pejuang yang konsisten yang tetap berjuang dengan kesederhanaan sikap dan tindakan, ketajaman pikiran yang kritis dan lugas, serta keberaniannya yang tanpa gentar. Beliaulah seorang patriot yang sangat mencintai tanah air dan selalu berada di pihak rakyatnya. Beliau berjuang tidak hanya pada masa Revolusi Fisik (1945-1949), namun juga masa sesudah itu, yakni masa kepemimpinan Presiden Soekarno dan masa kepemimpinan Presiden Soeharto (Orde Baru). Berikut ini akan coba saya jabarkan konsistensi seorang pejuang yang tak pernah berhenti berjuang selama tiga masa.

Masa Revolusi Fisik. NICA datang dengan membonceng Sekutu Inggris dengan tujuan menjajah kembali Bangsa Indonesia dengan dalih ingin melucuti tentara Jepang yang telah kalah perang. Pada masa ini, Bung Tomo selain berprofesi sebagai wartawan DOMEI, beliau juga menjadi Ketua Umum / Pucuk Pimpinan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang mendidik, melatih, dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh tanah air sejak tanggal 12 Oktober 1945 sampai bulan Juni 1947 hingga BPRI dilebur nenjadi Tentara Nasional Republik Indonesia. Beliau menjadi anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Ketua Badan koordinasi Produksi Senjata seluruh Jawa dan Madura. Atas perintah Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman, Bung Tomo bersama dengan Laksamana Nazir mempersiapkan wilayah Gunung Lawu sebagai Pusat Komando RI tertinggi dalam situasi perang. Pada masa akhir pendudukan Jepang tahun 1945, beliaulah yang mengobarkan semangat perjuangan arek-arek Suroboyo melalui pidatonya yang terkenal melalui radio Pemberontakan setiap malam yang di-relay oleh RRI di seluruh Indonesia.

Pada bulan Oktober 1945, Bung Tomo diundang oleh Presiden Soekarno ke Jakarta untuk merundingkan perihal penyusunan strategi dalam rangka mendesak tentara Jepang agar mau menyerahkan senjatanya kepada Bangsa Indonesia, secara sukarela atau direbut oleh rakyat, seperti yang telah terjadi di Surabaya. Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan instruksi yang ditandatangani oleh pimpinan KNI dan Kepala Polisi RI, Soekanto, sebagai wakil Menteri Dalam Negeri Wiranatakusumah untuk melaksanakan saran Bung Tomo tersebut. Pada 10 November 1945, Bung Tomo atas nama rakyat Surabaya menyatakan menolak ultimatum Inggris untuk menyerahkan senjata dan menerima tantangan Inggris. Maka meletuslah pertempuran di Surabaya yang berhasil menghancurkan armada tentara Inggris yang telah berpengalaman di medan Perang Dunia II. Demikianlah sepak terjang Bung Tomo selama masa perjuangan Revolusi Fisik.

Masa Kepemimpinan Presiden Soekarno (Orde Lama). Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Bung Tomo selain menjadi pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia bersama Jenderal Sudirman, Letnan Jenderal Oerip Sumodiharjo, Komodor Surjadarma, dan Laksamana Nazir, beliau juga pernah menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata / Veteran / Menteri Sosial Ad Interim (1955-1956); anggota DPR RI (1956-1959); Ketua II (Bidang Ideologi Sosial Politik) Markas Besar Legiun Veteran.

Pada masa inilah, perjuangan Bung Tomo beralih dari perjuangan fisik ke perjuangan parlemen. Tulisan-tulisan beliau yang terhimpun dalam buku Bung Tomo Menggugat berisi terntang gugatannya kepada para pemimpin Indonesia yang dinilainya gagal dalam merealisasikan cita-cita Indonesia merdeka, yakni menjadi negara demokrasi dan makmur dikarenakan berbagai macam bentuk penyelewengan yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Dalam tulisannya yang diberi judul “Nota 10 November”, Bung Tomo menganalisis persoalan persaingan tidak sehat yang terjadi antara kaum politisi sipil dan militer pada dekade 1950-an yang saling menunggangi yang membahayakan demokrasi.

Bung Tomo juga tidak segan-segan mengkritik dan mengoreksi kebijakan Presiden Soekarno yang dinilainya tidak adil terhadap partainya, PRI, dan juga mengesankan selalu mengasingkan perannya dalam lingkaran kekuasaannya yang diawali oleh pidatonya tentang sikap pemuda yang berkolaborasi dan menyinggung Bung Karno. Tuntutan beliau adalah pembubaran DPR dan partai politik oleh pemerintah yang dinilainya gagal mengemban amanat rakyat serta tidak produktif dalam melindungi dan memperjuangkan nasib rakyat. Untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan akibat pecahnya Dwi-Tunggal dan konflik sipil-militer, beliau menganjurkan agar AH Nasution, Hatta, dan Sultan Hamengkubuwono IX membentuk Zaken Kabinet demi terciptanya kewibawaan pemerintahan.

Bung Tomo juga secara lugas dalam tulisan-tulisannya mengkritik perilaku para jenderal yang mengalami dekadensi moral dengan beristri lebih dari satu dan terjebak dalam ‘main perempuan’. Selain itu, beliau juga pernah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower tertanggal 17 April 1955 yang isinya selain memberitahukan kondisi Negara Indonesia yang sebenarnya saat itu yang berada pada blok netral, juga menghimbau agar AS mendukung kemandirian Indonesia dengan membantu pembangunan ekonomi yang sedang diusahakan oleh pemerintah.

Pada era 60-an ketika kaum mahasiswa berkonflik dengan pemerintah yang telah kehilangan kewibawaan, korup, dan immoral, Bung Tomo mengirimkan surat kepada KAMI yang sedang bersidang dalam rangka menanggapi tantangan Bung Karno menjadi ‘Menteri Harga’. Dalam suratnya tersebut Bung Tomo menganjurkan kepada mahasiswa, “Terimalah tantangan Bung Karno tersebut tapi mintalah waktu setahun. Ini tidak ada artinya dibandingkan dengan dua piluh tahun di bawah Menteri-Menteri goblok. Dan, saya bersedia ikut ditembak bersama mahasiswa jika perlu”. Surat tersebut disambut tepuk tangan para mahasiswa dan rapat memutuskan untuk menerima tantangan Bung Karno tersebut. Demikianlah perjuangan parlemen Bung Tomo selama masa kepemimpinan Presiden Soekarno yang berakhir dengan hancurnya rezim Orde Lama tersebut.

Masa Kepemimpinan Presiden Soeharto (Orde Baru).

Bung Tomo mengirimkan surat secara khusus yang ditujukan pada Presiden Soeharto tertanggal 4 Desember 1972. Dalam surat itulah, Bung Tomo secara terbuka menceritakan kegelisahan hatinya pada Presiden Soeharto. Ia menangkap apa yang selama ini dirasakan rakyat, yakni kejengkelan, kecemasan, ketidakpuasan, dan kegelisahan rakyat pada pemerintahan Orde Baru. Ia mengungkapkan secara jujur bahwa kemaksiatan yang berhubungan dengan wanita yang sudah parah pada era Presiden Soekarno, pada era Presiden Soeharto malah semakin parah, terbuka, dilegalisir, dam meluas. Beliau menceritakan semua itu dengan jujur dan disertai berbagai macam contoh seperti perilaku busuk seorang perwira tinggi TNI yang mendatangi seorang wanita terhormat dan ajudannya mengatakan bahwa ‘bapaknya’ ‘menginginkan’ perempuan itu. Beliau mengungkapkan bahwa intensitas dan ekstensivitas main perempuan semakin meningkat pada masa pemerintahan ini. Beliau tidak mau, runtuhnya Soekarno besar hanya akan memberikan tempat bagi para Soekarno-Soekarno kecil yang terdiri atas perwira-perwira tinggi yang sudah melupakan kehormatan pribadi dan korpsnya.

Lebih dari itu, Bung Tomo juga melancarkan gugatan tajamnya pada koorporasi busuk antara cukong-cukong Cina dan para pembantu-pembantu terdekat Pak Harto. Cina-cina itu menjebak sebagian jenderal dan laksamana untuk mengusahakan tempat-tempat maksiat seperti tempat steam-baths, tempat-tempat judi dan sebagainya yang jelas bertentangan dengan kebudayaan Bangsa Indonesia. Bung Tomo lalu memperingatkan Presiden Soeharto agar tidak terjebak pada praktik-praktik percukongan Cina-cina yang berhasil menempel keluarga dan pembantu-pembantu terdekat Pak Haro tersebut.

Dalam surat yang sama, Bung Tomo juga mendesak Presiden agar menasionalisasi pabrik tepung Bogasari karena tempat itu telah menjadi tempat yang terdepan dan paling terhormat bagi cukong-cukong Cina lantaran adanya restu dari Cendana dan kalangan keluarga serta pembantu Presiden sendiri. Beliau menyarankan agar saham pabrik Bogasari tersebut dimiliki oleh kalangan non-cukong dan cukong harus disingkirkan dari sana untuk mencegah praktik-praktik percukongan yang merugikan negara dan meruntuhkan kewibawaan Presiden. Praktik-praktik memperkaya diri para pembesar pemerintahan yang berkoorporasi dengan cukong-cukong itu harus dilawan.

Disinilah letak analisis tajam Bung Tomo. Beliau mengungkapkan 2 solusi, yakni (1) Agar seyogyanya semua kekayaan yang diperoleh keluarga Pak Harto selama Pak Harto menjadi presiden (kalau kekayaan yang demikian itu memang ada), sebelum sidang Umum MPR yang akan dilaksanakan dihibahkan saja kepada badan-badan amal, dan (2) Perusahaan-perusahaan seperti Pabrik Tepung Bogasari yang sebagian besar modalnya adalah uang negara dan uang sebanyak itu tidak mungkin akan didapat oleh Cina-cina Bogasari itu bila tidak dengan mempergunakan kekuasaan “lingkungan Cendana”, maka praktis sebetulnya perusahaan-perusahaan seperti Bogasari itu merupakan perusahaan milik negara. Beliau mencontohkan tentang kesuksesan semen Gresik yang berkembang baik tanpa cukong.

Sekilas, terkesan bahwa Bung Tomo ini rasis dan anti-Cina. Namun jika kita melihat konteksnya, maka dengan sendirinya tuduhan seperti itu akan hilang, sebab apa yang selama itu diperjuangkan Bung Tomo hanyalah kebenaran dan keadilan. Contoh kasus diatas hanyalah setitik contoh dari perjuangan panjang beliau melawan koorporasi cukong dengan kerabat dekat Presiden.

Dalam Konsepsi Pejuang 45 yang beliau tujukan kepada Menteri Pertahanan RI tertanggal 18 Januari 1974, beliau mengingatkan kembali pemimpin Hankam yang hendak melaksanakan ‘misi sucinya’ untuk tanah air tentang pesan alm. Panglima Besar Jenderal Sudirman yang berbunyi, “Berhati-hatilah sebagai pemimpin. Godaan kedudukan (ambisi), harta, dan wanita dapat meruntuhkan iman dan mengurangi kewibawaan”. Beliau memperingatkan pada oknum-oknum eks pejuang Angkatan 45 yang pada saat itu sedang berkuasa agar jangan memadamkan semangat generasi muda yang sedang bergejolak. Sebab apa yang dituntut untuk dikoreksi oleh generasi muda adalah hal-hal yang nyata. Beliau menuntut adanya rasa pengorbanan yang ikhlas demi masa depan generasi muda dan demi perkembangan sejarah Tanah Air. Beliau menjabarkan cara-caranya secara lugas dan selalu diakhiri dengan ‘Mohon Kepada Tuhan’ dalam setiap suratnya. Intinya, jangan sampai pengorbanan pahlawan kemerdekaan dan semangat 10 November dikhianati oleh oknum-oknum dari kalangan Pejuang 45 sendiri yang telah melupakan nilai-nilai moral kepahlawanan serta menolak dengan tegas untuk menjadi antek-antek Cina di tengah bangsanya yang masih menderita.

Bung Tomo, dalam menanggapi isu hubungan antar golongan (Generation-gap) merumuskan dua solusi, yakni agar golongan tua mensyaratkan pada generasi muda untuk bersedia memeras otak dan keringat untuk aktif dalam pembangunan tanpa pamrih dan generasi muda harus mensyaratkan pada golongan tua yang sedang dominan dan berkuasa untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku bagi setiap orang tanpa perkecualian. Dengan demikian, diharapkan pertentangan dua golongan tersebut dapat diatasi.

Demikianlah secuil sepak terjang dari Bung Tomo, tokoh pahlawan inspiratif yang baru mendapatkan gelar pahlawannya pada tahun 2008. Sebenarnya, masih banyak pemikiran-pemikiran mengagumkan Bung Tomo lainnya dalam menanggapi berbagai macam isu yang merebak waktu itu yang selalu disertai dengan solusi cerdas dan permohonan pertolongan pada Tuhan Yang Maha kuasa. Kiranya kita dapat merenungkan konsistensi tanpa pamrih beliau dalam memperjuangkan kebenaran. Sebab saya rasa, apa yang diteladankan Bung Tomo tersebut sangatlah kontekstual dengan apa yang terjadi di negeri ini saat ini, dimana kita miskin keteladanan dan miskin nilai-nilai kepahlawanan di tengah-tengah himpitan hidup yang semakin materialistis dan hedonis ini. Saat dimana kita dituntut untuk menjadi oportunis dan situasional demi kepentingan pribadi, maka sudah selayaknya kita berguru pada salah seorang Pahlawan Besar kita ini yang tak pernah pamrih dalam berjuang demi Bangsa dan Negara.

Terima kasih, Bung Tomo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: