Budaya Buruk Siswa SMA

Hasil Ujian Nasional siswa-siswi SMA se-Indonesia telah diumumkan. Terlepas dari turunnya prosentase kelulusan secara nasional, ada hal lain yang perlu juga untuk disorot. Kita semua tahu, ada beberapa aktivitas sia-sia yang kerapkali dilakukan siswa-siswi SMA sesaat setelah kelulusan diumumkan; yakni budaya corat-coret seragam sekolah dan konvoi kendaraan bermotor keliling kota. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap tahun. Sebenarnya, perayaan kelulusan sekolah adalah sah-sah saja, sebab mereka telah berjuang pikiran dan tenaga selama berbulan-bulan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional (UN). Namun ketika kerja keras mereka berbuah kelulusan dan membuat mereka tenggelam dalam euforia yang berlebihan, maka sebetulnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari kelulusan mereka.

Sebetulnya, salah satu esensi pendidikan adalah proses belajar, bukan hasil akhir. Bagaimana siswa benar-benar memiliki keseriusan dan ketekunan dalam belajar serta memiliki kearifan sikap ketika mendapatkan kesuksesan, itulah hakekat pendidikan. Siswa tidak sepenuhnya salah sebab kebijakan sistem pendidikan kita yang mengabsolutkan hasil akhir UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan membuat emosi siswa meledak ketika hasil Ujian Nasional diumumkan. Walau pemerintah menyatakan UN bukanlah satu-satunya penentu kelulusan, praktik di lapangan berbicara lain. UN tetap menjadi kartu mati kelulusan.

Keberhasilan siswa dalam UN tidak lagi dimaknai sebagai salah satu langkah kecil dalam proses belajar, namun seolah sudah merupakan hasil akhir belajar. Padahal, selepas SMA siswa-siswi masih harus meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bekerja, atau berkarya. Perayaan UN kebanyakan siswa SMA, terutama mereka yang tinggal di kota, hanya berisi seremoni dan hura-hura belaka, jauh dari kesan syukur yang sebetulnya harus dipanjatkan pada Yang Memberi Kelulusan.

Corat-coret seragam adalah hal yang mubadzir. Tidak ada yang istimewa dari kegiatan itu selain hanya pelampiasan kegembiraan. Lebih baik jika seragam itu disumbangkan pada mereka yang lebih membutuhkan. Begitu pula konvoi kendaraan yang kerapkali menyebabkan kemacetan lalu lintas dan berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas. Belum lagi iring-iringan motor mereka yang berjalan begitu pelan, terkadang mengebut, ditambahi dengan permainan klakson dan gas yang membuat suasana semakin berisik.

Maka boleh diusulkan ke depan agar dilakukan razia Polisi gabungan untuk menertibkan konvoi jalanan ini. Tujuannya bukan untuk menangkapi siswa-siswa SMA, namun untuk memberikan pendidikan pada mereka bahwa hal yang paling utama dalam meraih kesuksesan bukanlah hura-hura tanpa arti itu, namun justru sikap arif dalam merayakan kesuksesan. Masih banyak kegiatan perayaan kelulusan lainnya yang lebih bermanfaat buat orang banyak, seperti mengadakan pengajian syukuran atau bakti sosial. Oleh karena itu, siswa-siswi SMA dituntut untuk merayakan kelulusan sekreatif mungkin namun dalam cara-cara yang baik dan bijaksana. Sudah waktunya perayaan kelulusan yang samasekali tidak mencerminkan kesan intelektual dan kesederhanaan ini dilenyapkan. Bangsa kita, terlebih generasi mudanya, tampaknya masih perlu belajar untuk berlaku proporsional dan wajar dalam semua hal, termasuk untuk sekedar merayakan keberhasilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: