Apatisme Vs Idealisme Mahasiswa

Banyak sekali gelar yang dianugerahkan pada mahasiswa. Mahasiswa kerapkali disebut-sebut sebagai agent of change. Mahasiswa dianggap sebagai pembela rakyat jelata. Mahasiswa dan pemuda adalah ujung tombak pembangunan di masa mendatang, tempat dimana segala macam pengharapan akan perubahan pada kehidupan berbangsa dan bernegara dikalungkan. Jika ekspektasi semua pihak sudah sedemikian tinggi pada mahasiswa, adakah mahasiswa itu sendiri sudah siap dan tergerak untuk menerima tongkat estafet tersebut?

Mari mengoreksi diri sejenak. Mahasiswa secara kasar tersegmentasi ke dalam tiga arus utama. Yang pertama adalah mahasiswa yang terorganisir dalam satu identitas pergerakan tertentu yang memiliki idealisme, agenda, aktivitas, dan tujuan yang jelas yang berbeda-beda antar organisasi.

Segmentasi kedua adalah mahasiswa independen yang tidak teridentifikasi secara organisatoris, namun mereka bergerak sendiri-sendiri secara dinamis dengan idealisme dan aktivitas masing-masing.

Dua segmen idealis itu, baik secara kolektif maupun individual, teridentifikasi sebagai kelompok activist (aktivis) dan thinker (pemikir) yang bergerak di segala lini kehidupan kemasyarakatan, yang kepadanyalah estafet pembangunan negara sebetulnya digantungkan.

Sedangkan kelompok ketiga adalah sekedar kerumunan dan soliterisme yang sulit diharapkan kontribusinya kelak. Bisa jadi mereka terorganisir ke dalam satu organisasi tidak produktif yang mengedepankan aspek komunalisme, maupun mereka yang bergerak sendiri-sendiri tanpa idealisme, tujuan, dan kontribusi apapun bagi masyarakat dan negara.

Sikap apatisme dan cuek bebek yang melekat pada mahasiswa jenis inilah yang patut didobrak. Mahasiswa bukanlah sekumpulan filsuf pemikir nasibnya sendiri-sendiri dan terpisah dari realitas kehidupan. Mahasiswa harus terlibat dan berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Mahasiswa diharapkan mau memperlajari segala macam fenomena masyarakat, ekspektasi-ekspektasi orang kecil, juga mulai belajar mendengarkan suara-suara ‘tak terdengar’ dari rakyat. Minimal, mahasiswa mempelajari situasi saat ini untuk dijadikan modal awal dalam rangka perjuangan selanjutnya di masa depan.

Kita sepatutnya mengingat pesan alm. W.S. Rendra bahwa, ‘Mahasiswa sebagai generasi muda yang ideal adalah yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat, kemudian berbakti pada masyarakat”. Saya rasa, hal itu sangatlah mungkin sebab mahasiswa pada khususnya dan pemuda pada umumnya adalah pribadi-pribadi yang penuh vitalitas dan dinamis. Yang jujur mengungkapkan apa yang dirasa benar serta mau belajar dari segala macam sumber secara terbuka.

Jika tugas dan tantangan mahasiswa sudah sedemikian berat, masih adakah kini mahasiswa yang tengah asyik bersantai-santai, acuh tak acuh pada masalah sekitar, berkerumun tanpa tujuan, apalagi sampai teracuni hedonisme yang luar biasa. Generasi apatis dan tidak produktif semacam itu bukanlah cerminan mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, mari bergerak mahasiswa Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: